ke halaman blog induk

pemoeda djawa, sampai sekarang masih dibikin oleh niemeyer





Saya bukan seorang kolektor maupun "kolekdol" [mengoleksi karya untuk dijual]. Saya hanya seorang pemulung, itu pun tak serius, bahkan hanya asal comot.

pemoeda djawa

Bagi saya, rasanya menyenangkan bisa memegang dan mengamati desain label dan kemasan yang kadang tak jelas siapa penciptanya itu. Mumpung kertas-kertas bergambar itu belum semakin tercecer, tercecer dan tercecer, sebagian saya selamatkan di sini saja.

Salam gombal,
kéré kêmplu





Sajian utama blog ini adalah gambar. Adapun teks itu hanya bualan, omong kosong, semata agar gambar tak kesepian seolah tak berkawan.

Meskipun begitu saya berterima kasih kepada para korban bualan yang mau buang waktu memberikan apresiasi khusus.


Nina Uletbulunaikdaun


Reference: Blog


"... it's a beautiful gallery..."




Bermula dari sini...




GOMBALKARTU:
Mainan lain mulai Agustus 2005







 
 






Jika Anda punya label dan kemasan yang menarik, boleh Anda kirimkan gambarnya ke saya, atau... hard copy-nya sekalian :) Jangan sungkan, saya memang pemulung. :D

dengan segala hormat anda saya larang tersenyum apalagi ketawa saat menatap gambar ini

Apakah mereka meng-update blognya?

<< December 2016 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02 03
04 05 06 07 08 09 10
11 12 13 14 15 16 17
18 19 20 21 22 23 24
25 26 27 28 29 30 31


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:


Contact Me

rss feed


1.8.06 | 22:28
Pindah warung

Mulai ini hari gambar dan cerita hijrah ke warung sebelah. Kwalitet tetap sama. Tepatnya: sama gombalnya. Terima kasih. Semoga makin kuciwa.

21.10.05 | 03:32
Akhirnya jadi...

Sidodadi. Ini istilah Jawa yang sering dipakai untuk menamai usaha dagang. Bahkan pasar pun ada yang bernama Sidodadi. Artinya ya sebangsa "akhirnya jadi", "akhirnya terlaksana", "akhirnya terwujud". Untuk toko di Bandung ini, jelaslah maksudnya: akhirnya gandum dan tepung lainnya bisa menjadi roti dan "kuweh". Lihatlah, rak kacanya penuh berisi dagangan kan? Roti tawar yang dinampankan pun cukup besar ukurannya.

Bungkus plastik ini saya dapatkan dari Boit, atas jasa baik Ragilmungil [teng yu, Ci!]. Hanya bungkus, tanpa isi. Tak apa, itu sudah membahagiakan saya. Kebahagian itu semakin lengkap karena tak lama setelah pengiriman bungkus itu, Februari 2005, Boit akhirnya "sidodadi" menikah dengan lelaki pilihannya, tanpa paksaan, tekanan dan apalagi ancaman, di Bandung.

Dan tak lama setelah menikah, dalam hitungan beberapa bulan, Boit "sidodadi" hamil. Sekarang ini dia dan suaminya sedang menantikan kelahiran sang bayi, dan kabarnya sudah siapkan nama.

Artinya pasangan muda itu sudah mengikuti anjuran si bungkus plastik: jadilah peserta KB [lestari]. KB itu keluarga berencana. Family planning. Salah jika KB cuma diartikan secara sempit sebagai pencegahan kehamilan dan pembatasan jumlah kelahiran. Ingat, ada kata "rencana" kan? Waktu mereka masih pacaran pasti sudah omong-omong, "Nanti kalo kita punya baby blablabla...". Itu bagian dari rencana.

Lho, bukannya teks lengkapnya adalah "jadilah peserta KB lestari" — ada kata "lestari"? Ah, itu rencana nanti. Tapi kalau "buanglah sampah pada tempatnya", itu sih mulai kemarin.

Bikin dan jualan roti sambil menebar pesan, alangkah mulianya. Sama mulianya dengan penyumbangan plastik ini untuk saya — kendati hanya bungkus tanpa isi. Terima kasih, It! Sampaikan kepada juragan toko mengapa hanya ada satu "t" pada nama depan jalan.

14.10.05 | 01:28
Kue tanpa rasa delima



Ini bikinan Malang, Jawa Timur. Namanya kue koya. Rasanya manis. Berserbuk. Berbahan antara lain kacang hijau. Saya tak tahu sejak kapan ada. Ada yang bilang tahun 60-an sudah ada. Orang Malang mungkin bisa bercerita.

Yang khas dari koya adalah cara mengemasnya. Kue pipih bundar ini ditumpuk lima kemudian dibalut dengan kertas roti. Keunikan lain: dari kemasan sudah terasa aroma oriental, maksud saya Cina; sungguh bukti keragaman Indonesia. Warna merah, buah delima sebagai merek, nama perusahaan, dan tulisan Tau Sa Ko [saya tak tahu artinya; ada yang bisa membantu?]. Sebuah kecinaan yang tak takluk oleh paksaan Orde Baru untuk berganti nama yang "mengindonesia".

Ah, bukankah Indonesia merupakan sebuah adonan? Lebih mudah mengidentifikasi sesuatu itu "asli Jawa", atau "asli Bugis", ketimbang "asli Indonesia".

27.9.05 | 00:51
Lumpia Nona

Lunpia atau lumpia? Sama saja. Maksudnya spring roll. Kita menyerapnya dari bahasa Cina [Hokkian?], dan kaum peranakan di Semarang masih setia dengan "lunpia". Kalau ingin lebih jelas bertanyalah kepada Remy Sylado, sang munsyi itu.

Semarang tak sendirian. Malang juga punya lumpia. Jakarta juga — tapi bumbunya beda. Lumpia semarang [dengan "s" kecil, seperti "y" kecil dalam "gudeg yogya"], terutama yang isi ayam, memang sedap. Dengan lalap daun bawang pedas, wuahhhh. Basah-mentah maupun [apalagi] goreng kering panas, sungguh lezat jadi teman menyeruput teh melati.

Manakah lumpia yang asli, atau menjadi pelopor, Aulia yang orang Suara Merdeka mungkin bisa bercerita karena korannya pernah menceritakan soal itu. Biru Elang-Bara mungkin juga tahu. Andaikan sejarawan lokal otodidak Amen Budiman masih hidup, mungkin dia dapat menuliskan riwayat lumpia semarang.

Di Semarang ada banyak lumpia — juga banyak merek wingko babat. Bagaimana setiap penyaji membedakan diri, itu sebuah seni. Maka Lunpia Mataram pun mencoba tampil modern, menurut masanya. Nona rambut sebahu, dengan sisiran yang [mungkin] diilhami oleh komik ala H.C. Andersen dan yang mengandersen terbitan Maranatha Bandung tahun 70-an, berwajah agak eurasia [terpengaruh Jan Mintaraga?], hasil olahan gambar manual dengan pena [tinta bak cap Naga?] dan cat air [merek Guitar?] dicetak dengan letter press, menampakkan raster kasar tapi masih memancarkan gradasi, telah menawarkan sebuah kelezatan nan gurih lagi nyaman. Tak perlu acung jempol. Cukup sebatang [atau selonjor?] lumpia dalam genggaman. Sebuah cara memegang lumpia yang kurang lumrah, tapi siapa tahu mewakili kenyataan saat si model memperagakannya.

Sekarang jawablah Nona, kenapa kau tak mau menatap kami, para pelahap lumpia? Kerlingkanlah barang sesudut ke arah kami.



     Next Page
   


© Hak cipta gambar ada pada masing-masing pemilik, pemuatan di sini tanpa meminta izin, semata karena apresiasi terhadap karya dan keinginan untuk menyebarluaskannya . Maaf dan terima kasih untuk pemilik hak atas karya.

Terima kasih untuk semua orang yang telah menyumbangkan label dan untuk semua pihak yang telah mengabarkan keberadaan blog ini.

Desain oleh Masé, 18 Juli 2005

 

Blogdrive