ke halaman blog induk

pemoeda djawa, sampai sekarang masih dibikin oleh niemeyer





Saya bukan seorang kolektor maupun "kolekdol" [mengoleksi karya untuk dijual]. Saya hanya seorang pemulung, itu pun tak serius, bahkan hanya asal comot.

pemoeda djawa

Bagi saya, rasanya menyenangkan bisa memegang dan mengamati desain label dan kemasan yang kadang tak jelas siapa penciptanya itu. Mumpung kertas-kertas bergambar itu belum semakin tercecer, tercecer dan tercecer, sebagian saya selamatkan di sini saja.

Salam gombal,
kéré kêmplu





Sajian utama blog ini adalah gambar. Adapun teks itu hanya bualan, omong kosong, semata agar gambar tak kesepian seolah tak berkawan.

Meskipun begitu saya berterima kasih kepada para korban bualan yang mau buang waktu memberikan apresiasi khusus.


Nina Uletbulunaikdaun


Reference: Blog


"... it's a beautiful gallery..."




Bermula dari sini...




GOMBALKARTU:
Mainan lain mulai Agustus 2005







 
 






Jika Anda punya label dan kemasan yang menarik, boleh Anda kirimkan gambarnya ke saya, atau... hard copy-nya sekalian :) Jangan sungkan, saya memang pemulung. :D

dengan segala hormat anda saya larang tersenyum apalagi ketawa saat menatap gambar ini

Apakah mereka meng-update blognya?

<< August 2005 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02 03 04 05 06
07 08 09 10 11 12 13
14 15 16 17 18 19 20
21 22 23 24 25 26 27
28 29 30 31


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:


Contact Me

rss feed


8.8.05 | 19:42
Sealed with a [piece of] wingko

Kerbau punya susu, sapi punya nama. Orang Polandia punya vodka, orang Swedia menuai merek. Babat punya wingko, Semarang memetik hasil. Akhirnya orang Yogya ikutan bikin. Babat? Ya, itu salah satu stasiun kereta api di Jawa Timur, bagian dari lintas utara Semarang-Surabaya. Maka tak mengherankan bila segala merek wingko babat adalah kereta api, karena dulu merupakan oleh-oleh penumpang sepur. Belum jelas siapa pengibar wingko babat semarangan pertama kali. Saya juga belum tahu ada berapa wingko babat semarang yang bermerek kereta api. Tentang wingko, dalam bahasa Jawa juga berarti kreweng atau kepingan genting. Sekarang, setelah selisih tiket termurah pesawat tak jauh beda dari tiket termahal kereta api, maka merek wingko babat pun berganti. Sari Roso, sebagai merek baru, sekalian saja mengayun langkah maju. Maka wingko pun terbang. Menjadi buah tangan untuk buah hati dan kekasih hati. Rasanya pun beragam. Cokelat sudah masuk. Durian juga. Besok mungkin rasa peach [persik], plum, aprikot dan anggur. Sari Roso. Bukan Sri Roso. Yang terakhir ini bukan wingko; orang Bantul, Yogya, lebih bisa bercerita.




nita
February 20, 2009   09:27 PM PST
 
merk nya bergabti tp kenapa yah pembungkusnya tetep dr kertas...ada yg tau
maya
September 9, 2006   10:46 AM PDT
 
suka banget wingko babat..apalagi yang rasa coklat hmmm..sayangnya yang dijual sekarang kecil, jadi cuman bisa sekali <i>ngemplok</I> ato mesti <I>ntimit nyimit</I> menikmatinya
stanley
September 26, 2005   08:25 PM PDT
 
blognya bagus, bikin saya pengen leave comment di sini, kita punya selera sama, melihat package, dan sya suka sekali dengan package2 tua itu...probably reminiscing things dgn package itu oke ya...apa lagi ya, udh prnh nulis tentang kaleng kacang merah andy warhol itu ?
Imponk
September 5, 2005   05:48 AM PDT
 
Wingko. Nama aslinya mungkin itu saja. Entah bagaimana prosesnya, kemungkinan besar pertama kali diproduksi dan difamiliarkan di Babat, Lamongan, sehingga wingo pun diketahui dengan menyebut nama asalnya.
Atau bisa jadi dari dulu memang sudah disebut dengan daerahnya? Karena umumnya orang jawa itu suka yang pendek-pendek, rasanya gak mungin kalau memberi nama dengan daerahnya. Babat melekat sebagai info tambahan dari mana ia berasal. 'Dari mana to wingko itu?' Dari belakang nama itulah wingko bisa diketahui asalnya. Atau dengan menyebut wingko saja dirasa kurang cukup menjelaskan bentuk panganan itu.
Barangkali sebagai bentuk rasa cinta Babat, pembuat wingko pun perlu melekatkan nama wingko dengan Babat. Hehehe.. tidak penting memperdebatkan asal musal melekatnya Babat dengan wingko. Cuma yang menjadi agak janggal wingko pun menyebar di lain daerah. Karena Babat dan wingko sudah menjadi satu, jadi tetap ditulis dengan Wingko Babat. Parahnya, di sana kadang tertera Asli ---yang memberi pengerian bahwa itu asli dari Babat. Apakah ada wingko palsu? entah. Padahal kalau melihat produksinya, ia tidak diproduksi di Babat, melainkan bisa di Semarang, pun juga Jogja.
lantip
August 11, 2005   11:24 AM PDT
 
pantes kok kuping saya rodo semriwing, jebul disinggung di sini (ge er mode on hehehe).
wingko babat sari roso maupun mantan pejabat sri roso punya kesamaan lho pakdhe.. sama-sama bisa bikin eneg. :) *kasihan wingkonya ding.. maaf wingko* :p
boe
August 10, 2005   03:35 AM PDT
 
wah, sanitas udah, wingko menyusul. Roti Ganjelrel ada yang berkemasan (dan qualify buat dibahas di sini) nggak pak dhe?
Mimi Hitam
August 9, 2005   11:07 AM PDT
 
kangen sama wingko...:(( pakde tanggung jawab!! hayo, belikan aku wingko...duh jadi kepingin sekali niiiihhh. Mau marah deh :D
loucee
August 9, 2005   06:16 AM PDT
 
lucu ya, biarpun kereta apinya sudah berevolusi jadi pesawat terbang, model kemasannya masih berupa 'amplop.'

dulu, jaman kecil... setiap nenek saya nengok dari pati, beliau pasti selalu bawa wingko babat buat oleh-oleh. saya gak terlalu suka rasa wingkonya, tapi 'amplop' nya suka saya timang-timang, bisa jadi dompet kalo lagi main pasar-pasaran.
|

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments




Previous Entry  Home  Next Entry
   


© Hak cipta gambar ada pada masing-masing pemilik, pemuatan di sini tanpa meminta izin, semata karena apresiasi terhadap karya dan keinginan untuk menyebarluaskannya . Maaf dan terima kasih untuk pemilik hak atas karya.

Terima kasih untuk semua orang yang telah menyumbangkan label dan untuk semua pihak yang telah mengabarkan keberadaan blog ini.

Desain oleh Masé, 18 Juli 2005

 

Blogdrive