![]() |
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
![]() ![]() ![]() Saya bukan seorang kolektor maupun "kolekdol" [mengoleksi karya untuk dijual]. Saya hanya seorang pemulung, itu pun tak serius, bahkan hanya asal comot. ![]() Bagi saya, rasanya menyenangkan bisa memegang dan mengamati desain label dan kemasan yang kadang tak jelas siapa penciptanya itu. Mumpung kertas-kertas bergambar itu belum semakin tercecer, tercecer dan tercecer, sebagian saya selamatkan di sini saja. Salam gombal, kéré kêmplu ![]() Sajian utama blog ini adalah gambar. Adapun teks itu hanya bualan, omong kosong, semata agar gambar tak kesepian seolah tak berkawan. Meskipun begitu saya berterima kasih kepada para korban bualan yang mau buang waktu memberikan apresiasi khusus.
Nina Uletbulunaikdaun ![]() Reference: Blog ![]() "... it's a beautiful gallery..." Bermula dari sini... GOMBALKARTU: Mainan lain mulai Agustus 2005 ![]() ![]()
Jika Anda punya label dan kemasan yang menarik, boleh Anda kirimkan gambarnya ke saya, atau... hard copy-nya sekalian :) Jangan sungkan, saya memang pemulung. :D ![]() ![]()
Contact Me |
1.3.05 | 20:14
Kesendirian dalam secangkir teh pahit
Mercusuar. Dibutuhkan para pelaut. Sebagai panduan untuk mendarat. Mereka, para pelaut itu, berpindah labuh dari pantai ke pantai, dermaga ke dermaga. Mengarungi beberapa samudra. Melintasi bermacam selat. Menyeruak ke sejumlah teluk. Mereka selalu berpindah. Selalu punya cerita tentang pelbagai tempat. Jangkar mereka pun mungkin dapat berkisah. Tapi tidak untuk penjaga mercusuar. Terutama yang di pulau karang. Atau di sudut pantai yang jauh dari permukiman. Mereka adalah penghuni penjara berbentuk menara. Menjaga mercusuar adalah kesendirian. Adalah ketabahan. Atau barangkali malah kepasrahan. Namun bisa juga sebuah pilihan. Jika sebuah merek, yang terwakili oleh teks dan gambar, boleh dianggap menyarankan suatu suasana, citra, bahkan manfaat, lantas apa yang disodorkan oleh teh bikinan Tegal, Jawa Tengah, si Kota Bahari, ini bagi penikmatnya? Saya tak berharap sebuah moral cerita macam ini: "ketika berlaku benar tiada yang berterima kasih apalagi memuji, tapi sekali saja berbuat salah maka akan banyak yang menyumpah dan mengutuknya". Itu lebih pahit daripada air teh terpekat-tanpa-gula yang sepahit-pahitnya. 16.2.05 | 20:48
Montok dan patriarki
Ketika kita menuding industri telah memaksakan standar kecantikan, maka jangan hanya membayangkan perusahaan global macam Mattel dan sejumlah produsen kosmetika. Jangan cuma membayangkan Barbie, yang telah mengonstruksikan kecantikan wanita sebagai tinggi, langsing, berleher jenjang, berkaki panjang, dan berpayudara kencang membusung [yang ada di boneka memang begitu kan?]. Begitu kelewat idealnya Barbie, sehingga ukuran pinggangnya pernah diprotes karena terlalu kecil, bisa mendorong anoreksia. Bukan hanya mereka, pemodal transnasional, yang telah memformat baku kecantikan. Pengrajin jamu [ya, mereka menyebut diri begitu] cap Akar, dari Solo, Jawa Tengah, pun melakukannya. Dengan menampilkan wanita berkebaya? Tidak. Lihatlah: dua wanita dengan rok tanpa lengan, berleher V. Entahlah si ilustrator mencontohnya dari mana. Montok adalah padat, tidak kurus kering tapi juga tak gembrot. Ada tulang yang tersembunyikan, sekaligus tak ada lemak bergelambir. Persoalannya, si pengrajin jamu itu secara sadar memformat kecantikan atau sekadar meneruskan standar kecantikan menurut babad patriarkal, yang diyakini sebagai tradisi? Oh ya, kenapa selalu ada kata "galian"? Saya belum tahu.
12.2.05 | 21:47
Warna itu kasih
Wenter adalah cara sederhana sebagian masyarakat kita untuk bergaya. Silakan Anda tengok bualan saya tempo hari tentang wenter cap Kresno. Lantas bagaimana dengan wenter atau wentol cap Kalkun? Soal pilihan merek saya anggap ajaib, karena kalkun yang bukan dari Turki itu tak kita akrabi selayaknya kita mengakrabi ayam. Selain soal daging, kalkun [dari bahasa Belanda: kalkoen] yang tambun dan bersuara klok-klok-klok itu melambangkan apa sih? Tapi, ah, itu terserah si produsenlah. Soal fungsi, sudah jelas: "membaharui warna pakaian". Yang belum jelas adalah kenapa ada "mbangun-trisno" [membangun kasih]? Sandang dengan warna baru, termasuk "kuning podang", selain lebih hemat [pada saat produk garmen/konveksi masih mahal], mungkin juga diharapkan akan membawa tebaran kasih sayang yang mempersegar, yang memperbarui. A renewable love, begitulah. Selamat Hari Valentin[e]!11.2.05 | 07:48
Bikin turun pitam
Tak jelas kenapa hipertensi dihubungkan dengan amarah. Tekanan darah tinggi [atau tekanan tinggi darah?]. Naik darah. Naik pitam. Pengidap hipertensi, kalau lagi kumat, lantas marah, maka berkemungkinan tensinya ikut naik. Marah dulu baru kemudian tensi. Kalau tensi naik lantas jdi uring-uringan? Hanya dokter yang bisa menjelaskan. Kalau rambut yang sebelumnya klimis tersisir seperti Harmoko, lantas ketika marah jadi jabrik, itu kenapa? Hair stylist mungkin bisa memaparkan. Tentu, si desainer bungkus jamu ini juga bisa menjelaskan mengapa harus ada wajah memerah, kening berkerut, dan rambut berdiri. Kalau jawabannya, "Habis gimana lagi, lha wong ordernya memang gitu, ya saya gambar gitu," itu jelas akan bikin kita naik pitam. Apa sih arti pitam? Cekot-cekot, nyut-nyutan atawa headache. |
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
|
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||