ke halaman blog induk

pemoeda djawa, sampai sekarang masih dibikin oleh niemeyer





Saya bukan seorang kolektor maupun "kolekdol" [mengoleksi karya untuk dijual]. Saya hanya seorang pemulung, itu pun tak serius, bahkan hanya asal comot.

pemoeda djawa

Bagi saya, rasanya menyenangkan bisa memegang dan mengamati desain label dan kemasan yang kadang tak jelas siapa penciptanya itu. Mumpung kertas-kertas bergambar itu belum semakin tercecer, tercecer dan tercecer, sebagian saya selamatkan di sini saja.

Salam gombal,
kéré kêmplu





Sajian utama blog ini adalah gambar. Adapun teks itu hanya bualan, omong kosong, semata agar gambar tak kesepian seolah tak berkawan.

Meskipun begitu saya berterima kasih kepada para korban bualan yang mau buang waktu memberikan apresiasi khusus.


Nina Uletbulunaikdaun


Reference: Blog


"... it's a beautiful gallery..."




Bermula dari sini...




GOMBALKARTU:
Mainan lain mulai Agustus 2005







 
 






Jika Anda punya label dan kemasan yang menarik, boleh Anda kirimkan gambarnya ke saya, atau... hard copy-nya sekalian :) Jangan sungkan, saya memang pemulung. :D

dengan segala hormat anda saya larang tersenyum apalagi ketawa saat menatap gambar ini

Apakah mereka meng-update blognya?

<< March 2005 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02 03 04 05
06 07 08 09 10 11 12
13 14 15 16 17 18 19
20 21 22 23 24 25 26
27 28 29 30 31


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:


Contact Me

rss feed


9.3.05 | 17:42
Cokelat kukuruyuk

Image hosted by Photobucket.com Bantulah saya untuk mendapatkan padanan bagi kata "cokelat" sebagai warna. Mestinya ada. Tapi keterbatasan bahasa dalam diri saya mengakibatkan saya mentok di lorong kata. Cokelat. Coklat. Soklat, kata orang Jawa. Artinya merah kehitaman. Cokelat juga berarti makanan atau minuman, atau bubuk, yang berbahan dasar biji kakao [Theobroma cacao]. Artinya? Memang cokelat itu barang asing yang akhirnya membumi, sehingga brown, bruin, braun adalah cokelat, dan chocolate adalah cokelat. Kemampuan berbahasa kitalah, lisan maupun tulis, yang membuat kita dapat membedakan cokelat sebagai warna dan cokelat sebagai apapun yang berasal dari kakao, tergantung konteks kalimat. Tentu Brown, de Bruin, Braun, sebagai nama marga, tak kita Indonesiakan menjadi James Cokelat, Jan de Cokelat, dan seterusnya. Saya belum tahu pasti apakah tanaman cokelat juga bagian dari paket Tanam Paksa [Cultuur Stelsel] Belanda pada 1870, atau sekadar tanaman ikutan setelah itu. Yang saya sok pasti, akibat tanaman cokelat bin kakao itu kita punya kosa kata, yang nyaris tunggal, untuk peyebutan sebuah warna dalam bahasa sehari-hari -- bukan dalam bahasa desainer dan industri. Cokelat sebagai turunan kakao kita pahami sama, apapun kelas dan cita rasanya. Mau yang kelas Swiss [harap maklum, Nestle saja berurusan dengan perkebunan cokelat dan kopi di kawasan tropis yang luasnya melebihi Swiss] maupun kelas KRL Jabotabek. Nah yang kelas KRL ini dipasok oleh adik kita Cici. Cap Jago. Murah. Tak sampai Rp 1.000 per batang. Terbikin oleh Ceres, pabrik cokelat di Bandung, yang terkenal dengan butiran cokelat tabur. Cap Jago. Anak-anak kampung mengakrabinya. Betul-betul jago. Sama seperti kejagoan produk berbahan kakao yang akhirnya menjadi nama warna, sehingga kata kata padanannya pun kita lupakan [bank kata di benak saya belum juga menemukannya]. Bukan soal rasa, bukan soal harga, bukan sulap, bukan sihir. Cokelat adalah asupan untuk mulut, dan cokelat adalah warna. Jago yakin akan hal itu, sehingga sampai kini belum membuat milk chocolate bar yang berwarna putih. Terima kasih, Cici.

Image hosted by Photobucket.com

1.3.05 | 20:14
Kesendirian dalam secangkir teh pahit


Mercusuar. Dibutuhkan para pelaut. Sebagai panduan untuk mendarat. Mereka, para pelaut itu, berpindah labuh dari pantai ke pantai, dermaga ke dermaga. Mengarungi beberapa samudra. Melintasi bermacam selat. Menyeruak ke sejumlah teluk. Mereka selalu berpindah. Selalu punya cerita tentang pelbagai tempat. Jangkar mereka pun mungkin dapat berkisah. Tapi tidak untuk penjaga mercusuar. Terutama yang di pulau karang. Atau di sudut pantai yang jauh dari permukiman. Mereka adalah penghuni penjara berbentuk menara. Menjaga mercusuar adalah kesendirian. Adalah ketabahan. Atau barangkali malah kepasrahan. Namun bisa juga sebuah pilihan. Jika sebuah merek, yang terwakili oleh teks dan gambar, boleh dianggap menyarankan suatu suasana, citra, bahkan manfaat, lantas apa yang disodorkan oleh teh bikinan Tegal, Jawa Tengah, si Kota Bahari, ini bagi penikmatnya? Saya tak berharap sebuah moral cerita macam ini: "ketika berlaku benar tiada yang berterima kasih apalagi memuji, tapi sekali saja berbuat salah maka akan banyak yang menyumpah dan mengutuknya". Itu lebih pahit daripada air teh terpekat-tanpa-gula yang sepahit-pahitnya.

16.2.05 | 20:48
Montok dan patriarki

Ketika kita menuding industri telah memaksakan standar kecantikan, maka jangan hanya membayangkan perusahaan global macam Mattel dan sejumlah produsen kosmetika. Jangan cuma membayangkan Barbie, yang telah mengonstruksikan kecantikan wanita sebagai tinggi, langsing, berleher jenjang, berkaki panjang, dan berpayudara kencang membusung [yang ada di boneka memang begitu kan?]. Begitu kelewat idealnya Barbie, sehingga ukuran pinggangnya pernah diprotes karena terlalu kecil, bisa mendorong anoreksia. Bukan hanya mereka, pemodal transnasional, yang telah memformat baku kecantikan. Pengrajin jamu [ya, mereka menyebut diri begitu] cap Akar, dari Solo, Jawa Tengah, pun melakukannya. Dengan menampilkan wanita berkebaya? Tidak. Lihatlah: dua wanita dengan rok tanpa lengan, berleher V. Entahlah si ilustrator mencontohnya dari mana. Montok adalah padat, tidak kurus kering tapi juga tak gembrot. Ada tulang yang tersembunyikan, sekaligus tak ada lemak bergelambir. Persoalannya, si pengrajin jamu itu secara sadar memformat kecantikan atau sekadar meneruskan standar kecantikan menurut babad patriarkal, yang diyakini sebagai tradisi? Oh ya, kenapa selalu ada kata "galian"? Saya belum tahu.

12.2.05 | 21:47
Warna itu kasih

Wenter adalah cara sederhana sebagian masyarakat kita untuk bergaya. Silakan Anda tengok bualan saya tempo hari tentang wenter cap Kresno. Lantas bagaimana dengan wenter atau wentol cap Kalkun? Soal pilihan merek saya anggap ajaib, karena kalkun yang bukan dari Turki itu tak kita akrabi selayaknya kita mengakrabi ayam. Selain soal daging, kalkun [dari bahasa Belanda: kalkoen] yang tambun dan bersuara klok-klok-klok itu melambangkan apa sih? Tapi, ah, itu terserah si produsenlah. Soal fungsi, sudah jelas: "membaharui warna pakaian". Yang belum jelas adalah kenapa ada "mbangun-trisno" [membangun kasih]? Sandang dengan warna baru, termasuk "kuning podang", selain lebih hemat [pada saat produk garmen/konveksi masih mahal], mungkin juga diharapkan akan membawa tebaran kasih sayang yang mempersegar, yang memperbarui. A renewable love, begitulah. Selamat Hari Valentin[e]!


     Next Page
   


© Hak cipta gambar ada pada masing-masing pemilik, pemuatan di sini tanpa meminta izin, semata karena apresiasi terhadap karya dan keinginan untuk menyebarluaskannya . Maaf dan terima kasih untuk pemilik hak atas karya.

Terima kasih untuk semua orang yang telah menyumbangkan label dan untuk semua pihak yang telah mengabarkan keberadaan blog ini.

Desain oleh Masé, 18 Juli 2005

 

Blogdrive