ke halaman blog induk

pemoeda djawa, sampai sekarang masih dibikin oleh niemeyer





Saya bukan seorang kolektor maupun "kolekdol" [mengoleksi karya untuk dijual]. Saya hanya seorang pemulung, itu pun tak serius, bahkan hanya asal comot.

pemoeda djawa

Bagi saya, rasanya menyenangkan bisa memegang dan mengamati desain label dan kemasan yang kadang tak jelas siapa penciptanya itu. Mumpung kertas-kertas bergambar itu belum semakin tercecer, tercecer dan tercecer, sebagian saya selamatkan di sini saja.

Salam gombal,
kéré kêmplu





Sajian utama blog ini adalah gambar. Adapun teks itu hanya bualan, omong kosong, semata agar gambar tak kesepian seolah tak berkawan.

Meskipun begitu saya berterima kasih kepada para korban bualan yang mau buang waktu memberikan apresiasi khusus.


Nina Uletbulunaikdaun


Reference: Blog


"... it's a beautiful gallery..."




Bermula dari sini...




GOMBALKARTU:
Mainan lain mulai Agustus 2005







 
 






Jika Anda punya label dan kemasan yang menarik, boleh Anda kirimkan gambarnya ke saya, atau... hard copy-nya sekalian :) Jangan sungkan, saya memang pemulung. :D

dengan segala hormat anda saya larang tersenyum apalagi ketawa saat menatap gambar ini

Apakah mereka meng-update blognya?

<< June 2005 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02 03 04
05 06 07 08 09 10 11
12 13 14 15 16 17 18
19 20 21 22 23 24 25
26 27 28 29 30


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:


Contact Me

rss feed


18.6.05 | 00:06
Kretek feodal: dari priyayi untuk kawula

Ini rokok modern. Maksud saya merek baru, yang keluar pada awal abad ini. Hasil kongsi PT Yogyakarta Tembakau [investor utama adalah keluarga Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat] dengan PT H.M. Sampoerna Tbk [BEJ: HMSP]. Pasar sasaran ya wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta di bawah gubernur yang Ngarsa Dalem. Lakukah rokok ini? Saya tak punya data. Apakah para abdi dalem dan sentana dalem, bahkan Sri Sultan Hamengkubuwono X, juga merokok ini? Saya tak tahu. Lantas apanya yang menarik? Dari sisi bisnis secara umum tak ada yang baru. Banyak keluarga kerajaan di dunia ini yang menanamkan modalnya untuk suatu usaha bahkan lebih. Yang terkenal tentu saja investasi keluarga Sultan Brunei yang meraksasa, lengkap dengan skandalnya [ingat kasus Amedeo-nya playboy Jefry Bolkiah si hedonis, yang punya 2.000 mobil dan 17 pesawat? Ingat, yacht-nya dinamai Tits, Nipple I dan Nipple II?]. Jadi cara kerajaan untuk bertahan adalah dengan berbisnis. Nah, kalau ditilik dari kasus rokok Kraton [ejaan Jawa untuk "keraton" -- padahal kata Indonesia ini diserap dari bahasa Jawa], maka ada hal yang menarik. Tampaknya produsen mencoba mengambil tuah keraton untuk branding dengan harapan sukses di pasar. Memang sih, Nurmagupita, putri keraton, berujar kepada Kompas, "Pemberian nama itu melalui semacam polling kepada masyarakat, dan kebanyakan setuju dengan nama itu. Kami tidak akan mengambil kesempatan di balik keberadaan Keraton Yogyakarta. Orang luar juga banyak yang menggunakan nama keraton, misalnya bakso keraton dan sebagainya..." Dari sisi peneguhan peran, ya inilah kesempatan bagi Keraton Yogyakarta untuk memangku bumi, menyejahterakan hamba sahaya. :P Lantas kenapa teks peringatan bahaya rokok tanpa pencantuman "peringatan sultan" ya? :D

8.6.05 | 22:42
Sirop sang penari

 
Tersenyumkah dia sang penari? Beda mata beda tafsir. Maniskah rasa setrup [stroop] ini? Tentu. Terbuat dari gula murni, dicampur air, pewarna dan aroma. Seperi di sirup klasik Tjampolay dari Cirebon. Sarangsari adalah merek lama, sebelum Indonesia merdeka. Terbikin oleh PT Sarangsari [d.h. De Vrische Boerin], tapi di Dirjen POM Depkes terdaftar atas nama PT Sumber Sari. Di tengah desakan merek sirop lain, saya tak tahu apakah dari tahun ke tahun kehadiran Sarangsari dalam setiap hari raya akan menyusut. Pengusaha parsel pun mungkin sudah lupa merek ini.

6.5.05 | 22:48
Jerapah doyan santan



Satwa memang paling sering dijadikan merek. Tapi apa alasan wong Solo ini bikin kantong plastik cap Jerapah? Padahal, terus terang saja, plastiknya tidak bisa diulur supaya panjang seperti leher jerapah. Yang pasti, biarpun jerapah bukan spesies endemik di Indonesia, plastik jerapah itu sangat Indonesia: tahan mengantongi santan. Sebuah label sablonan yang bersahaja namun percaya diri, hurufnya pun tampaknya diset pakai Rugos. Apakah para pembeli peduli pada merek ini, sehingga ketika datang ke toko plastik akan bilang kepadasi penjual, "Minta plastik jerapah..."? Tanyailah kenalan Anda yang orang Solo, atau Sala, atau Surakarta: apakah mereka mengenal plastik jerapah.

4.5.05 | 02:59
Menerjang sekuat sepur

Kereta api uap, masihkah jadi simbol kecepatan? Kalau untuk kekuatan mungkin masih. Itu pula barangkali alasan Mayora, produsen permen Plonk [merek yang pas!], menggunakan gambar dua lokomotif menarik gerbong yang seolah-olah sedang berpacu di rel masing-masing. Dua rangkaian kereta api Superstrong pengangkut anis [Pimpinella anisum]. Seperti citra yang diinginkan: kekuatannya akan menembus penghambat pernapasan, "yang disebabkan oleh polusi, perubahan cuaca dan rokok". Tak dijelaskan apakah asap rokok yang diembuskan seorang perokok juga merupakan polusi bagi orang lain, terutama yang tidak merokok. Apakah sepur uap ini merupakan jawaban untuk Fisherman's Friend bikinan Amrik, yang melaju sekencang dan sekuat kapal ikan?

     Next Page
   


© Hak cipta gambar ada pada masing-masing pemilik, pemuatan di sini tanpa meminta izin, semata karena apresiasi terhadap karya dan keinginan untuk menyebarluaskannya . Maaf dan terima kasih untuk pemilik hak atas karya.

Terima kasih untuk semua orang yang telah menyumbangkan label dan untuk semua pihak yang telah mengabarkan keberadaan blog ini.

Desain oleh Masé, 18 Juli 2005

 

Blogdrive