ke halaman blog induk

pemoeda djawa, sampai sekarang masih dibikin oleh niemeyer





Saya bukan seorang kolektor maupun "kolekdol" [mengoleksi karya untuk dijual]. Saya hanya seorang pemulung, itu pun tak serius, bahkan hanya asal comot.

pemoeda djawa

Bagi saya, rasanya menyenangkan bisa memegang dan mengamati desain label dan kemasan yang kadang tak jelas siapa penciptanya itu. Mumpung kertas-kertas bergambar itu belum semakin tercecer, tercecer dan tercecer, sebagian saya selamatkan di sini saja.

Salam gombal,
kéré kêmplu





Sajian utama blog ini adalah gambar. Adapun teks itu hanya bualan, omong kosong, semata agar gambar tak kesepian seolah tak berkawan.

Meskipun begitu saya berterima kasih kepada para korban bualan yang mau buang waktu memberikan apresiasi khusus.


Nina Uletbulunaikdaun


Reference: Blog


"... it's a beautiful gallery..."




Bermula dari sini...




GOMBALKARTU:
Mainan lain mulai Agustus 2005







 
 






Jika Anda punya label dan kemasan yang menarik, boleh Anda kirimkan gambarnya ke saya, atau... hard copy-nya sekalian :) Jangan sungkan, saya memang pemulung. :D

dengan segala hormat anda saya larang tersenyum apalagi ketawa saat menatap gambar ini

Apakah mereka meng-update blognya?

<< August 2005 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02 03 04 05 06
07 08 09 10 11 12 13
14 15 16 17 18 19 20
21 22 23 24 25 26 27
28 29 30 31


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:


Contact Me

rss feed


13.8.05 | 02:40
5 Pasal Keluarga Khong Guan

di manakah ayah? TENTANG "roti kaleng cap Khong Guan" [orang Jawa menyebut biskuit sebagai roti] versi orisinal, yaitu assorted biscuits yang diakrabi para keluarga di Indonesia, ada lima pasal.

1 | Saya dulu waktu kecil sangat terkesan oleh ilustrasi dalam kaleng, yang sampai hari ini tak diganti. Keluarga yang hangat sedang bersantai di meja makan bertaplak linen dengan bekas lipatan yang kentara. Tapi saya membatin, di manakah bapaknya? Ah, anggap saja dialah yang memotret keluarganya. Dia tak tahu cara menggunakan self timer. Lho, ini kan lukisan? Hmmm anggap saja hasil salinan dari foto.

2 | Sejak kecil saya tergeli-geli oleh potongan rambut anak lelaki itu. Pada suatu Senin tahun 2001 di sebuah kantor, seorang pegawai anyaran masuk kerja dengan potongan rambut baru. Ada komentar jahat: " Keren! Rambutmu kayak biskuit Khong Guan." Teman-teman sekantor setuju. Anak itu tak mau mengulangi gaya rambutnya yang hebat.

belum jadi orang indonesia modern kalau belum kenal ini 3 | Dulu, waktu saya bocah, yang paling saya sukai dari Khong Guan versi orisinal [ya, isinya campuran itu] adalah wafernya. Tapi sayang wafernya selalu sedikit.

4 | Dasar lidah sontoloyo, setelah mengenal biskuit merek lain, barulah saya sadar bahwa Khong Guan versi orisinal bukan yang terenak. Setelah ada peragaman produk, rasanya lebih bervariasi, ada yang enak. Maka jangan heran bila ada yang terkesan.

5 | Khong Guan termasuk perusahaan PMA awal yang masuk pada Orde Baru, seangkatan dengan Tancho.Tapi sebelum itu Khong Guan punya sejarah panjang.

Sekarang tambahkan pasal Anda.

Link: berita kurang gurih tentang Khong Guan

8.8.05 | 19:42
Sealed with a [piece of] wingko

Kerbau punya susu, sapi punya nama. Orang Polandia punya vodka, orang Swedia menuai merek. Babat punya wingko, Semarang memetik hasil. Akhirnya orang Yogya ikutan bikin. Babat? Ya, itu salah satu stasiun kereta api di Jawa Timur, bagian dari lintas utara Semarang-Surabaya. Maka tak mengherankan bila segala merek wingko babat adalah kereta api, karena dulu merupakan oleh-oleh penumpang sepur. Belum jelas siapa pengibar wingko babat semarangan pertama kali. Saya juga belum tahu ada berapa wingko babat semarang yang bermerek kereta api. Tentang wingko, dalam bahasa Jawa juga berarti kreweng atau kepingan genting. Sekarang, setelah selisih tiket termurah pesawat tak jauh beda dari tiket termahal kereta api, maka merek wingko babat pun berganti. Sari Roso, sebagai merek baru, sekalian saja mengayun langkah maju. Maka wingko pun terbang. Menjadi buah tangan untuk buah hati dan kekasih hati. Rasanya pun beragam. Cokelat sudah masuk. Durian juga. Besok mungkin rasa peach [persik], plum, aprikot dan anggur. Sari Roso. Bukan Sri Roso. Yang terakhir ini bukan wingko; orang Bantul, Yogya, lebih bisa bercerita.




18.7.05 | 14:50
Sehat, dari generasi ke generasi

Dalam sebuah pertemuan untuk menyimak presentasi, teman saya menatap boks kue. "Mereknya itu lho, kok mengingatkan saya sama sanitasi dan saniter," katanya. Saya menyahut, "Toto? KIA? Pinangsia? Panglima Polim?" Dua nama terakhir adalah kawasan di Jakarta yang punya sejumlah toko keramik dan perlengkapan kamar mandi. Si empunya merek Sanitas tentu tak berpikir sesesat kami, orang-orang awam yang miskin stok istilah. Sanitas yang mereka maksudkan tentulah bersih-sehat lahir maupun batin, sekelompok dengan higiene. Kue yang lezat dan higienis, tepatnya. Dan itu pun terbukti. Sejak lama. Terbikin sejak 1920. Berbasis di Semarang, Jawa Tengah. Punya cabang di Blok M, Jakarta Selatan. Kekunoan itu mereka jadikan kekuatan sehingga gaya Belanda dimasukkan ke dalam kardus lipat: bakkerij. Tapi saya ragu apakah si maskot berupa koki imut itu sudah ada sejak awal. Cara penggambaran wajah mengingatkan saya pada pada gaya komik H.C. Andersen, dan apapun yang di-Andersen-kan, terbitan Maranatha Bandung dan pengikutnya, pada tahun 70-an. Mata belalak bening [yang kadang agak berkaca] adalah salah satu cirinya. Sama seperti manga, komik Jepang.




18.6.05 | 00:06
Kretek feodal: dari priyayi untuk kawula

Ini rokok modern. Maksud saya merek baru, yang keluar pada awal abad ini. Hasil kongsi PT Yogyakarta Tembakau [investor utama adalah keluarga Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat] dengan PT H.M. Sampoerna Tbk [BEJ: HMSP]. Pasar sasaran ya wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta di bawah gubernur yang Ngarsa Dalem. Lakukah rokok ini? Saya tak punya data. Apakah para abdi dalem dan sentana dalem, bahkan Sri Sultan Hamengkubuwono X, juga merokok ini? Saya tak tahu. Lantas apanya yang menarik? Dari sisi bisnis secara umum tak ada yang baru. Banyak keluarga kerajaan di dunia ini yang menanamkan modalnya untuk suatu usaha bahkan lebih. Yang terkenal tentu saja investasi keluarga Sultan Brunei yang meraksasa, lengkap dengan skandalnya [ingat kasus Amedeo-nya playboy Jefry Bolkiah si hedonis, yang punya 2.000 mobil dan 17 pesawat? Ingat, yacht-nya dinamai Tits, Nipple I dan Nipple II?]. Jadi cara kerajaan untuk bertahan adalah dengan berbisnis. Nah, kalau ditilik dari kasus rokok Kraton [ejaan Jawa untuk "keraton" -- padahal kata Indonesia ini diserap dari bahasa Jawa], maka ada hal yang menarik. Tampaknya produsen mencoba mengambil tuah keraton untuk branding dengan harapan sukses di pasar. Memang sih, Nurmagupita, putri keraton, berujar kepada Kompas, "Pemberian nama itu melalui semacam polling kepada masyarakat, dan kebanyakan setuju dengan nama itu. Kami tidak akan mengambil kesempatan di balik keberadaan Keraton Yogyakarta. Orang luar juga banyak yang menggunakan nama keraton, misalnya bakso keraton dan sebagainya..." Dari sisi peneguhan peran, ya inilah kesempatan bagi Keraton Yogyakarta untuk memangku bumi, menyejahterakan hamba sahaya. :P Lantas kenapa teks peringatan bahaya rokok tanpa pencantuman "peringatan sultan" ya? :D

     Next Page
   


© Hak cipta gambar ada pada masing-masing pemilik, pemuatan di sini tanpa meminta izin, semata karena apresiasi terhadap karya dan keinginan untuk menyebarluaskannya . Maaf dan terima kasih untuk pemilik hak atas karya.

Terima kasih untuk semua orang yang telah menyumbangkan label dan untuk semua pihak yang telah mengabarkan keberadaan blog ini.

Desain oleh Masé, 18 Juli 2005

 

Blogdrive