![]() |
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
![]() ![]() ![]() Saya bukan seorang kolektor maupun "kolekdol" [mengoleksi karya untuk dijual]. Saya hanya seorang pemulung, itu pun tak serius, bahkan hanya asal comot. ![]() Bagi saya, rasanya menyenangkan bisa memegang dan mengamati desain label dan kemasan yang kadang tak jelas siapa penciptanya itu. Mumpung kertas-kertas bergambar itu belum semakin tercecer, tercecer dan tercecer, sebagian saya selamatkan di sini saja. Salam gombal, kéré kêmplu ![]() Sajian utama blog ini adalah gambar. Adapun teks itu hanya bualan, omong kosong, semata agar gambar tak kesepian seolah tak berkawan. Meskipun begitu saya berterima kasih kepada para korban bualan yang mau buang waktu memberikan apresiasi khusus.
Nina Uletbulunaikdaun ![]() Reference: Blog ![]() "... it's a beautiful gallery..." Bermula dari sini... GOMBALKARTU: Mainan lain mulai Agustus 2005 ![]() ![]()
Jika Anda punya label dan kemasan yang menarik, boleh Anda kirimkan gambarnya ke saya, atau... hard copy-nya sekalian :) Jangan sungkan, saya memang pemulung. :D ![]() ![]()
Contact Me |
10.10.04 | 12:34
Pemotong buaya Apa sih yang terlintas di benak pencipta merek ketika bikin silet cap Nacet? Tampaknya dia tak membayangkan silet untuk memotong cicak atau tokek [ih bengis!], karena di Barat kan nggak ada cicak atau tokek, kecuali mengimpor gecko dari negeri tropis. S ilet tajam, bisa mengiris buaya [darat], alangkah hebatnya. Nacet terbikin oleh Gillettes Company, yang tak hanya bikin silet tapi juga personal cares buat pria dan wanita. Nacet sekarang tampil modern, tapi ya tetap dengan buaya tak bersalah yang jadi korban kekejaman itu -- bukan buaya [darat] brewok yang harus dicukur...9.10.04 | 02:13
Tancep terus, Mas Bimo! Setahu saya, Bimo, eh Bima, itu tokoh yang lurus, lugas, jauh dari petualangan romantis macam Arjuna. Tapi entah kenapa dia dijadikan simbol kekuatan [selain kejantanan] untuk jamu yang akan dikesankan sebagai afrodisiak. Mungkin karena kukunya, pancanaka, yang dalam posisi selipan jari tertentu akan melambangkan kopulasi. Maka jadilah Jamu cap Kuku Bima. Padahal kalau tersugesti sebagai Bima, lantas mengidentifikasi diri sebagai sang tokoh, maka si peminum jamu akan main lugas, apa adanya, langsung serbu, tak seperti Arjuna the great womanizer itu. Tapi, apa iya itu memang afrodisiak? Kalau kita lihat kemasannya sih nggak ada gambar karonsih maupun suasana asmaradana. Lha wong gambar orang ngangkat halter gitu kok dihubungkan sama "bikin cinta". Kuku Bima, katanya, "kurang kuat, bini marah". Jayus, garing, tapi mestinya ungkapan itu layak diensiklopedikan, supaya 50 tahun mendatang orang bisa terbahak.8.10.04 | 03:11
Haiya, chikit-chikit sakit mules ha? ![]() Ini obat diare. Orang bilang obat mencret dari Cina. Padahal terbikin di Malaysia, masuk ke Indonesia lewat PT Sindhe Budhi Farma, produsen larutan penyegar cap Kaki Tiga. Nama obat ini pil Chi-Kit bikinan Teck Aun. Isinya mungkin sekitar 30 butiran kecil [dalam kotak karton mini 6,5 cm x 1,8 cm x 1,8 cm], untuk orang dewasa harus sekali tenggak. Mirip adegan cerita silat cina. Rasanya seperti jamu. Boleh beli selusin sekalian, harganya Rp 18.000-20.000/lusin. Lumayan mustajab bin mujarobat. Cocok untuk perjalanan dan camping. Ada aturan pakai dalam empat bahasa [Cina, Melayu, Inggris, Hindi], yang hanya bisa dibaca oleh orang yang matanya sehat. Logo yang terpasang dalam bahasa Inggris adalah "Eagle & Pagoda Brand. Regd. Trade Mark", dengan versi Melayu pada sisi lain "cap Burung rajawali dan Menara Kuil. Tanda Perniagaan Didaftar". Belum jelas, siapakah gerangan tuan yang nampang dalam kardus mungil itu. Kayaknya sih dia bilang, "Kalo you olang chikit-chikit sakit pelut, minum saja saya punya obat. Dijamin cespleng, bèlès, zondel lisiko."7.10.04 | 02:51
Tembako tjap Pemoeda Djawa Eksotis, sekaligus ngeselin. Rupanya di mata penjajah dulu, orang "bumiputera" itu eksotis, cocok untuk merek produk yang berasal dari tanah jajahan: tembakau. Maka jadilah Javaanse Jongens. Sudah dijajah, diperas, masih dipakai buat ikon pula. Sontoloyo betul! Sampai kini tembakau itu masih diproduksi, bungkusnya memakai bar code. Isinya Mild, Enteng dan mantap Tembaco. Kalengnya pun dijual, untuk wadah tembakau. Di negeri yang cukai rokoknya tinggi, tembakau untuk tingwé [linting dhéwé] masih laku. Itu pula sebabnya Niemeyer, produsen tembakau ini, pernah memasarkan alat pelinting sigaret dari plastik untuk konsumen Belanda. Saya nggak tahu apakah brand ini cukup kuat di Holland. Tapi dalam sebuah dokumentasi North Sea Jazz Festival di Den Haag awal 90-an, tercatat bahwa merek tembakau ini punya anjungan buat berpentas. |
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
|
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||