![]() |
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
![]() ![]() ![]() Saya bukan seorang kolektor maupun "kolekdol" [mengoleksi karya untuk dijual]. Saya hanya seorang pemulung, itu pun tak serius, bahkan hanya asal comot. ![]() Bagi saya, rasanya menyenangkan bisa memegang dan mengamati desain label dan kemasan yang kadang tak jelas siapa penciptanya itu. Mumpung kertas-kertas bergambar itu belum semakin tercecer, tercecer dan tercecer, sebagian saya selamatkan di sini saja. Salam gombal, kéré kêmplu ![]() Sajian utama blog ini adalah gambar. Adapun teks itu hanya bualan, omong kosong, semata agar gambar tak kesepian seolah tak berkawan. Meskipun begitu saya berterima kasih kepada para korban bualan yang mau buang waktu memberikan apresiasi khusus.
Nina Uletbulunaikdaun ![]() Reference: Blog ![]() "... it's a beautiful gallery..." Bermula dari sini... GOMBALKARTU: Mainan lain mulai Agustus 2005 ![]() ![]()
Jika Anda punya label dan kemasan yang menarik, boleh Anda kirimkan gambarnya ke saya, atau... hard copy-nya sekalian :) Jangan sungkan, saya memang pemulung. :D ![]() ![]()
Contact Me |
14.10.04 | 11:32
Emberrrrrrrrrr! Sang pelopor itu bernama Pioneer. Sang paiyenir alat rumah tangga berbahan plastik, dari gayung, waskom sampai ember. Muncul pada awal 70-an [atau sebelumnya ya?]. Iklannya di TVRI menggambarkan ember tak pecah meski dijatuhkan dari helikopter [emang dari ketinggian berapa?]. Plastik hadir menggantikan ember-ember seng tebal milik ibu saya, yang dalam keadaan kosong bisa mengundang jeritan kalau rim atau bibir alas si ember menjatuhi jari kaki saya karena si ember terguling dari tumpukan tengkurap. Plastik: begitu ngepop, kaya warna, enteng, lunak, dan menyiratkan kesementaraan [padahal bahan ini susah diurai oleh alam]. Plastik adalah modernitas. Tapi lihatlah sosok wanita berpinggang ramping yang berkebaya merah, berkain biru. Barangkali itulah potret wanita Indonesia saat itu. Mulai mengancik ke alam modern, karena ingin serbapraktis, tapi masih dijerat oleh busana lama yang menahan langkah bergegas [adakah dia memakai kelom geulis kayu made in Jalan Cihampelas Bandung?].NB: stiker label berbentuk apel itu, alangkah ngepopnya... 14.10.04 | 00:26
How R.U. Pak Lesab? "Extra fine, thanx lho!" Johnny Walker. Jack Daniel. Kita boleh tak peduli sosok kedua nama itu karena tak tahu sejarahnya. Yang penting mereka itu kesohor. Lantas siapa Pak Lesab? Saya juga nggak tahu who's that guy. A local hero? Wah nanti dulu, local mana? Saya nggak tahu itu kertas sigaret kelas "extra fine" bikinan daerah mana. Sekarang tataplah Pak Lesab. Belum terlalu tua. Gagah. Jantan. Sorot mata tajam. Berkumis. Hidung nggak pesek. Jemarinya agak lentik [kalau hidup di kota, pantesnya bisa main gitar/piano, dan menggambar], nggak segempal pisang susu sebagaimana jemari centeng komikal dicitrakan. Pinjam setting komik silat lama, Pak Lesab pastilah masih sanggup menggetarkan para gadis dan janda muda [adakah yang salah dengan janda muda sehingga sering buat ejekan?]. Para penikmat rokok tingwé [linting dhewe] mungkin membayangkan dirinya sebagai Pak Lesab yang extra fine, best quality pula, dan hanya beredar di pedesaan yang orangnya jarang ngomong Jaklish ["Jakarta-english" -- haha, ini istilah saya]. Pak Lesab. Nama yang langka. Kalau cuma "Lesab" tanpa "Pak" kayaknya cocok juga untuk judul novel, asal penulisnya cewek, dan isinya rada menabrak tabu-tabu lama. Ayayayayaya... :P 13.10.04 | 03:48
Don't forget isep klembak menyan, jangan kaget kalau dianggep kuburan Sungguh hebat para perokok klembak menyan itu. Sudah tambakaunya pekat, dengan kandungan tar dan nikotin melebihi toleransi, eh masih diberi aroma kuburan pula. Hebat? Mereka nggak pusing, nggak mual, bahkan terbatuk pun tidak. Entah dari dewa apa daya tahan itu datang. Dari jarak 30 meter [kalau anginnya membantu] aroma klembak menyan ini akan tercium. Para perokoknya ada di wilayah Dulangmas [Kedu, Magelang, Banyumas], yaitu wilayah yang pelat nomor kendaraannya berawalan AA dan R. Di wilayah lain juga ada yang doyan, tapi sedikit. Sekarang pengisap rokok sesaji ini semakin menipis. Anak muda pedesaan hanya doyan rokok berfilter. Di kawasan Mageleng dan pinggiran Yogyakarta, rokok pemusing-pemual yang pernah popular adalah Djolali, bikinan Mas Bustami. Saya pernah ke rumah yang merangkap pabrik [tanpa cerobong lho] milik Mas Bustami, dekat Terminal Bus Muntilan, mau kenalan, tapi dia lagi ke luar kota. Dari Yogya saya naik taksi ke Muntilan, pingin tahu orang macam apakah yang penuh percaya diri memasang potret dalam produknya itu. Ternyata itu foto Mas -- tepatnya: Pak, bahkan Mbah -- Bustami tahun 70-an.12.10.04 | 13:07
Wenter wantek ![]() ![]() Kata lama "wantek", sebagai sesuatu yang teguh, tak mudah luntur, rupanya berasal dari dunia wenter. Inilah masa lalu Indonesia ketika industri tekstil dan garmen belum maju, sehingga cara untuk memperkaya tampilan adalah dengan mewarnai pakaian sendiri. Bisa baju, celana atau kaos baru yang diubah warnanya, bisa juga pakaian lama dicelup ulang supaya nggak kelihatan pudar. Pilihan warnanya juga oke lho. Ada "jambon" [merah jambu], tapi tak mendekati pink-nya Barbie. Ada pula oranye tua. Saya tak tahu, siapa pengguna warna-warni berani itu pada masa lalu. Masa sih pantalon dril putih dicelup jadi jambon atau oranye? Pangkeh bener! Kini, pada abad ke-21, masihkah wenter dijual? Diskonan di Matahari dan Ramayana saja sudah murah, ngapain juga berepot diri dengan main celup. Repot? Baca aturan pakai dalam gambar! :) ![]() |
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
|
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||