ke halaman blog induk

pemoeda djawa, sampai sekarang masih dibikin oleh niemeyer





Saya bukan seorang kolektor maupun "kolekdol" [mengoleksi karya untuk dijual]. Saya hanya seorang pemulung, itu pun tak serius, bahkan hanya asal comot.

pemoeda djawa

Bagi saya, rasanya menyenangkan bisa memegang dan mengamati desain label dan kemasan yang kadang tak jelas siapa penciptanya itu. Mumpung kertas-kertas bergambar itu belum semakin tercecer, tercecer dan tercecer, sebagian saya selamatkan di sini saja.

Salam gombal,
kéré kêmplu





Sajian utama blog ini adalah gambar. Adapun teks itu hanya bualan, omong kosong, semata agar gambar tak kesepian seolah tak berkawan.

Meskipun begitu saya berterima kasih kepada para korban bualan yang mau buang waktu memberikan apresiasi khusus.


Nina Uletbulunaikdaun


Reference: Blog


"... it's a beautiful gallery..."




Bermula dari sini...




GOMBALKARTU:
Mainan lain mulai Agustus 2005







 
 






Jika Anda punya label dan kemasan yang menarik, boleh Anda kirimkan gambarnya ke saya, atau... hard copy-nya sekalian :) Jangan sungkan, saya memang pemulung. :D

dengan segala hormat anda saya larang tersenyum apalagi ketawa saat menatap gambar ini

Apakah mereka meng-update blognya?

<< October 2004 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02
03 04 05 06 07 08 09
10 11 12 13 14 15 16
17 18 19 20 21 22 23
24 25 26 27 28 29 30
31


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:


Contact Me

rss feed


15.10.04 | 11:20
Ke gunung sana aku memandang

"dulu ada yang bilang ini silet komunis hahaha!"Silet cap Gunung Tatra bikinan Republik Cekoslovakia [sekarang masuk Slovakia], saya jarang menjumpainya. Tatra, pegunungan yang indah, dengan banyak puncak. Di Ceko juga ada industri Tatra, tapi bikin mobil. Jadi, ini pabrik Tatra yang mana? Tatra yang gunung, sudah saya jumpai di Jalan Gejayan, dekat Pasar Demangan, Yogyakarta. Itu nama penjahit, pemiliknya asal Wonosari. Mungkin dia mengidentifikasikan Gunung Kidul dengan Tatra. Sekarang pandangilah foto-foto sepia para opa dan eyang kakung yang tampak klimis. Boleh jadi mereka membabat kumis-jenggot-cambang dengan Tatra. Oh ya, nanti dalam sebuah pesta koktil, carilah dipomat Ceko dan Slovakia. Tanyailah apakah mereka pernah memakai silet Tatra. :) Hmm... silet, produk teknologi untuk membabat bulu yang tak diinginkan. Bank Dunia memasukkan Tatra sebagai indikator standar hidup rakyat Ghana dalam surveinya. Saya nggak tahu apakah Badan Pusat Statistik pernah memasukkan barang ginian dalam surveinya. Padahal harga barang remeh, bukan hanya silet, itu termasuk indikator biaya hidup lho. Maka tak mengherankan bila ada sebuah pemeringkatan biaya hidup kota-kota metropolitan dunia memasukkan harga MacD dan Coke [dan juga harga prangko untuk kirim kartu pos, selain ongkos taksi dari bandara ke pusat kota] untuk "indeks kemahalan".
"inilah pegunungan tatra yang senyatanya..."

15.10.04 | 01:32
Deru MSG

Rhung-rhungggg... moto cap mobil... Citttttt! Stop MSG?Kayaknya sih fungsi monosodium glutamat [MSG] atawa moto itu buat meningkatkan kepekaan lidah terhadap rasa. Bagi yang nyandu MSG, lama-lama lidahnya kurang peka terhadap rasa, sehingga pilihannya adalah menambah takaran MSG dalam masakan supaya "lebih sedap". Maka lihatlah, tukang bakso dorong dan penjual soto tenda dengan enteng akan menambahkan MSG ke dalam mangkok sebelum diguyur kuah. Restoran dan katering pun ikut-ikutan [memang sih, nggak semuanya], sehingga konsumen yang tak terbiasa dengan MSG akan merasakan tenggorokan panas dan gatal, sudah begitu ujung lidah seperti lidas [antara terbakar dan kepedesan]. Lebih sial, makanan terkemas, termasuk kecap, pun menambahkan MSG. Lantas apa hubungannya lidah dengan mobil? Mungkin agar rasa lebih lekas meresap ke dalam lidah, secepat mobil Desoto melesat, dalam moto klasik bikinan Semarang ini. Sebelum Ajinomoto, Sasa, dan kemudian Mi-Won menyerbu pasar, pemain lamanya ya sebangsa Moto tjap Mobil ini. Itulah masa ketika mobil Jepun belum merajai jalanan dan parkiran. Selamat sahur. Dan semoga tanpa MSG. :)

14.10.04 | 11:32
Emberrrrrrrrrr!

ember plastik yang lebih lunak ketimbang ember sengSang pelopor itu bernama Pioneer. Sang paiyenir alat rumah tangga berbahan plastik, dari gayung, waskom sampai ember. Muncul pada awal 70-an [atau sebelumnya ya?]. Iklannya di TVRI menggambarkan ember tak pecah meski dijatuhkan dari helikopter [emang dari ketinggian berapa?]. Plastik hadir menggantikan ember-ember seng tebal milik ibu saya, yang dalam keadaan kosong bisa mengundang jeritan kalau rim atau bibir alas si ember menjatuhi jari kaki saya karena si ember terguling dari tumpukan tengkurap. Plastik: begitu ngepop, kaya warna, enteng, lunak, dan menyiratkan kesementaraan [padahal bahan ini susah diurai oleh alam]. Plastik adalah modernitas. Tapi lihatlah sosok wanita berpinggang ramping yang berkebaya merah, berkain biru. Barangkali itulah potret wanita Indonesia saat itu. Mulai mengancik ke alam modern, karena ingin serbapraktis, tapi masih dijerat oleh busana lama yang menahan langkah bergegas [adakah dia memakai kelom geulis kayu made in Jalan Cihampelas Bandung?].

NB: stiker label berbentuk apel itu, alangkah ngepopnya...

14.10.04 | 00:26
How R.U. Pak Lesab?
"Extra fine, thanx lho!"

Johnny Walker. Jack Daniel. Kita boleh tak peduli sosok kedua nama itu karena tak tahu sejarahnya. Yang penting mereka itu kesohor.

Lantas siapa Pak Lesab? Saya juga nggak tahu who's that guy. A local hero? Wah nanti dulu, local mana? Saya nggak tahu itu kertas sigaret kelas "extra fine" bikinan daerah mana.

Sekarang tataplah Pak Lesab. Belum terlalu tua. Gagah. Jantan. Sorot mata tajam. Berkumis. Hidung nggak pesek. Jemarinya agak lentik [kalau hidup di kota, pantesnya bisa main gitar/piano, dan menggambar], nggak segempal pisang susu sebagaimana jemari centeng komikal dicitrakan. Pinjam setting komik silat lama, Pak Lesab pastilah masih sanggup menggetarkan para gadis dan janda muda [adakah yang salah dengan janda muda sehingga sering buat ejekan?].

Para penikmat rokok tingwť [linting dhewe] mungkin membayangkan dirinya sebagai Pak Lesab yang extra fine, best quality pula, dan hanya beredar di pedesaan yang orangnya jarang ngomong Jaklish ["Jakarta-english" -- haha, ini istilah saya].

Pak Lesab. Nama yang langka. Kalau cuma "Lesab" tanpa "Pak" kayaknya cocok juga untuk judul novel, asal penulisnya cewek, dan isinya rada menabrak tabu-tabu lama. Ayayayayaya... :P


     Next Page
   


© Hak cipta gambar ada pada masing-masing pemilik, pemuatan di sini tanpa meminta izin, semata karena apresiasi terhadap karya dan keinginan untuk menyebarluaskannya . Maaf dan terima kasih untuk pemilik hak atas karya.

Terima kasih untuk semua orang yang telah menyumbangkan label dan untuk semua pihak yang telah mengabarkan keberadaan blog ini.

Desain oleh Masé, 18 Juli 2005

 

Blogdrive