![]() |
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
![]() ![]() ![]() Saya bukan seorang kolektor maupun "kolekdol" [mengoleksi karya untuk dijual]. Saya hanya seorang pemulung, itu pun tak serius, bahkan hanya asal comot. ![]() Bagi saya, rasanya menyenangkan bisa memegang dan mengamati desain label dan kemasan yang kadang tak jelas siapa penciptanya itu. Mumpung kertas-kertas bergambar itu belum semakin tercecer, tercecer dan tercecer, sebagian saya selamatkan di sini saja. Salam gombal, kéré kêmplu ![]() Sajian utama blog ini adalah gambar. Adapun teks itu hanya bualan, omong kosong, semata agar gambar tak kesepian seolah tak berkawan. Meskipun begitu saya berterima kasih kepada para korban bualan yang mau buang waktu memberikan apresiasi khusus.
Nina Uletbulunaikdaun ![]() Reference: Blog ![]() "... it's a beautiful gallery..." Bermula dari sini... GOMBALKARTU: Mainan lain mulai Agustus 2005 ![]() ![]()
Jika Anda punya label dan kemasan yang menarik, boleh Anda kirimkan gambarnya ke saya, atau... hard copy-nya sekalian :) Jangan sungkan, saya memang pemulung. :D ![]() ![]()
Contact Me |
16.10.04 | 04:04
Dari burung priyayi untuk burung kéré Inilah dagelan kéré: bagaimana cara menghabiskan duit Rp 100 juta untuk sekali santap sendirian, dan harus habis, tanpa ongkos lain-lain, cuma makan saja. Jawabannya: makan perkutut goreng, tapi perkututnya juara konkurs atawa lomba. Perkutut, konon, bisa mahal, sehingga saya dengar kabar burung [via mulut manusia] bahwa perkutut anu itu harganya malah setara sedan anyar 2.000 cc. Yang saya tahu perkutut memang dirumat sepenuh hati. Termasuk dikasih jamu. Supaya sehat. Agar suara "kung"-nya merdu, mendatangkan ketenangan selagi menikmati teh poci. Nah, jamu bikinan Sumber-Djadi ini bilang, ramuannya berasal dari bangsawan Yogyakarta. Jadi, perkutut kéré diharapkan akan semulia perkutut priyayi, burungnya para priyagung kaum menak, piaraan para bandara [baca: bendoro, dengan "d" lunak, bisa disingkat "ndoro"], yang mungkin lebih bagus unggah-ungguh atau manner-nya. Feodalisme, alangkah melenakannya. Padahal raja pun, terutama pendiri wangsa atau dinasti dalam masyarakat agraris, adalah keturunan petani. Saya tak tahu adakah raja pendiri wangsa yang keturunan atau bekas bajak laut, baik rompak maupun lanun -- dengan atau tanpa anting sebelah, dengan atau tanpa penutup mata sebelah.15.10.04 | 11:20
Ke gunung sana aku memandang Silet cap Gunung Tatra bikinan Republik Cekoslovakia [sekarang masuk Slovakia], saya jarang menjumpainya. Tatra, pegunungan yang indah, dengan banyak puncak. Di Ceko juga ada industri Tatra, tapi bikin mobil. Jadi, ini pabrik Tatra yang mana? Tatra yang gunung, sudah saya jumpai di Jalan Gejayan, dekat Pasar Demangan, Yogyakarta. Itu nama penjahit, pemiliknya asal Wonosari. Mungkin dia mengidentifikasikan Gunung Kidul dengan Tatra. Sekarang pandangilah foto-foto sepia para opa dan eyang kakung yang tampak klimis. Boleh jadi mereka membabat kumis-jenggot-cambang dengan Tatra. Oh ya, nanti dalam sebuah pesta koktil, carilah dipomat Ceko dan Slovakia. Tanyailah apakah mereka pernah memakai silet Tatra. :) Hmm... silet, produk teknologi untuk membabat bulu yang tak diinginkan. Bank Dunia memasukkan Tatra sebagai indikator standar hidup rakyat Ghana dalam surveinya. Saya nggak tahu apakah Badan Pusat Statistik pernah memasukkan barang ginian dalam surveinya. Padahal harga barang remeh, bukan hanya silet, itu termasuk indikator biaya hidup lho. Maka tak mengherankan bila ada sebuah pemeringkatan biaya hidup kota-kota metropolitan dunia memasukkan harga MacD dan Coke [dan juga harga prangko untuk kirim kartu pos, selain ongkos taksi dari bandara ke pusat kota] untuk "indeks kemahalan".![]() 15.10.04 | 01:32
Deru MSG Kayaknya sih fungsi monosodium glutamat [MSG] atawa moto itu buat meningkatkan kepekaan lidah terhadap rasa. Bagi yang nyandu MSG, lama-lama lidahnya kurang peka terhadap rasa, sehingga pilihannya adalah menambah takaran MSG dalam masakan supaya "lebih sedap". Maka lihatlah, tukang bakso dorong dan penjual soto tenda dengan enteng akan menambahkan MSG ke dalam mangkok sebelum diguyur kuah. Restoran dan katering pun ikut-ikutan [memang sih, nggak semuanya], sehingga konsumen yang tak terbiasa dengan MSG akan merasakan tenggorokan panas dan gatal, sudah begitu ujung lidah seperti lidas [antara terbakar dan kepedesan]. Lebih sial, makanan terkemas, termasuk kecap, pun menambahkan MSG. Lantas apa hubungannya lidah dengan mobil? Mungkin agar rasa lebih lekas meresap ke dalam lidah, secepat mobil Desoto melesat, dalam moto klasik bikinan Semarang ini. Sebelum Ajinomoto, Sasa, dan kemudian Mi-Won menyerbu pasar, pemain lamanya ya sebangsa Moto tjap Mobil ini. Itulah masa ketika mobil Jepun belum merajai jalanan dan parkiran. Selamat sahur. Dan semoga tanpa MSG. :)14.10.04 | 11:32
Emberrrrrrrrrr! Sang pelopor itu bernama Pioneer. Sang paiyenir alat rumah tangga berbahan plastik, dari gayung, waskom sampai ember. Muncul pada awal 70-an [atau sebelumnya ya?]. Iklannya di TVRI menggambarkan ember tak pecah meski dijatuhkan dari helikopter [emang dari ketinggian berapa?]. Plastik hadir menggantikan ember-ember seng tebal milik ibu saya, yang dalam keadaan kosong bisa mengundang jeritan kalau rim atau bibir alas si ember menjatuhi jari kaki saya karena si ember terguling dari tumpukan tengkurap. Plastik: begitu ngepop, kaya warna, enteng, lunak, dan menyiratkan kesementaraan [padahal bahan ini susah diurai oleh alam]. Plastik adalah modernitas. Tapi lihatlah sosok wanita berpinggang ramping yang berkebaya merah, berkain biru. Barangkali itulah potret wanita Indonesia saat itu. Mulai mengancik ke alam modern, karena ingin serbapraktis, tapi masih dijerat oleh busana lama yang menahan langkah bergegas [adakah dia memakai kelom geulis kayu made in Jalan Cihampelas Bandung?].NB: stiker label berbentuk apel itu, alangkah ngepopnya... |
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
|
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||