![]() |
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
![]() ![]() ![]() Saya bukan seorang kolektor maupun "kolekdol" [mengoleksi karya untuk dijual]. Saya hanya seorang pemulung, itu pun tak serius, bahkan hanya asal comot. ![]() Bagi saya, rasanya menyenangkan bisa memegang dan mengamati desain label dan kemasan yang kadang tak jelas siapa penciptanya itu. Mumpung kertas-kertas bergambar itu belum semakin tercecer, tercecer dan tercecer, sebagian saya selamatkan di sini saja. Salam gombal, kéré kêmplu ![]() Sajian utama blog ini adalah gambar. Adapun teks itu hanya bualan, omong kosong, semata agar gambar tak kesepian seolah tak berkawan. Meskipun begitu saya berterima kasih kepada para korban bualan yang mau buang waktu memberikan apresiasi khusus.
Nina Uletbulunaikdaun ![]() Reference: Blog ![]() "... it's a beautiful gallery..." Bermula dari sini... GOMBALKARTU: Mainan lain mulai Agustus 2005 ![]() ![]()
Jika Anda punya label dan kemasan yang menarik, boleh Anda kirimkan gambarnya ke saya, atau... hard copy-nya sekalian :) Jangan sungkan, saya memang pemulung. :D ![]() ![]()
Contact Me |
18.10.04 | 20:25
Marku[w]at bin Perkasa Satu hal yang membuat saya terkesan oleh jamu kuat ini adalah keluguannya. Yang namanya kuat tak langsung dihubung-hubungkan dengan keperkasaan berlaki-bini seperti umumnya jamu. Juga tak ada janji visual bahwa orang akan menjadi Bima atau Herkules maupun binaragawan. Kuat ya kuat selayaknya orang desa yang sehat: sanggup memanggul beban berupa hasil bumi. Prianya memanggul dan menenteng beberapa butir kelapa dengan tersenyum. Tapi kenapa perempuannya tak tersenyum santai ketika menggendong bakul berisi bebotolan jamu? Di sinilah ngèlmu tafsir saya buntu. Ngèlmu yang sebetulnya gombal itu. Sempat terpikir sih, apakah mereka suami-istri? Bisa ya, bisa tidak. Apakah mereka sekadar berjalan beriringan di jalan desa? Anda sajalah yang menafsirkannya.18.10.04 | 07:50
"Humble angels" Wèlèh, mana ada istilah "humble angels"? Kalau "hell's angels" sih ada. Itu lho, kaum outlaws yang mengendarai montor udhuk besar cap Harley-Davidson. Namanya juga gombal, jadi ya ngawur saja. Soalnya bidadari dari Bojonegoro, Jawa Timur [atau Cepu, Jawa Tengah?], negerinya imponk, ini memang tampil bersahaja. Cuma satu warna [maksud saya dua warna: pink dan putih], hasil cetak saring pula, di atas kertas HVS 70 gram, dengan kualitas klise [saringan] yang kurang bagus, gosokan rakel yang kurang merata, dan art work-nya memberi kesan diset pakai Rugos, dan boleh jadi penggambaran bidadarinya menggunakan drafting pen [kalau Anda menyebut "rapido", itu merek, bukan nama benda] di atas 0,5 mm, atau bahkan mungkin pakai semacam "boxy" [lha kalau ini memang merek yang jadi benda]. Tapi di mata saya label ini tetap indah. Naif sekaligus jujur. Apa adanya. Dan rada cuek terhadap gambaran tradisional [memangnya ada?] tentang bidadari seperti dalam cerita Jaka Tarub. Lihatlah gaunnya. Juga mahkotanya. Panjang rambutnya? Jauh melebihi model iklan Sunsilk dari versi ke versi. Apa nggak capek tuh ngerawatnya? Pelaksana creambath di salon harus dikasih tip gede kalau kedatangan mereka. Kalau nggak, begitu mereka nongol akan muncul bisik-bisik, "Yah, mereka lagi. Capek ngurusinnya." Sebuah tafsir terhadap imaji tentang bidadari merah jambu dari pinggir hutan jati. Bidadari berwarna kesumba... :)NB: Tipografinya sangat percaya diri kan? 16.10.04 | 04:04
Dari burung priyayi untuk burung kéré Inilah dagelan kéré: bagaimana cara menghabiskan duit Rp 100 juta untuk sekali santap sendirian, dan harus habis, tanpa ongkos lain-lain, cuma makan saja. Jawabannya: makan perkutut goreng, tapi perkututnya juara konkurs atawa lomba. Perkutut, konon, bisa mahal, sehingga saya dengar kabar burung [via mulut manusia] bahwa perkutut anu itu harganya malah setara sedan anyar 2.000 cc. Yang saya tahu perkutut memang dirumat sepenuh hati. Termasuk dikasih jamu. Supaya sehat. Agar suara "kung"-nya merdu, mendatangkan ketenangan selagi menikmati teh poci. Nah, jamu bikinan Sumber-Djadi ini bilang, ramuannya berasal dari bangsawan Yogyakarta. Jadi, perkutut kéré diharapkan akan semulia perkutut priyayi, burungnya para priyagung kaum menak, piaraan para bandara [baca: bendoro, dengan "d" lunak, bisa disingkat "ndoro"], yang mungkin lebih bagus unggah-ungguh atau manner-nya. Feodalisme, alangkah melenakannya. Padahal raja pun, terutama pendiri wangsa atau dinasti dalam masyarakat agraris, adalah keturunan petani. Saya tak tahu adakah raja pendiri wangsa yang keturunan atau bekas bajak laut, baik rompak maupun lanun -- dengan atau tanpa anting sebelah, dengan atau tanpa penutup mata sebelah.15.10.04 | 11:20
Ke gunung sana aku memandang Silet cap Gunung Tatra bikinan Republik Cekoslovakia [sekarang masuk Slovakia], saya jarang menjumpainya. Tatra, pegunungan yang indah, dengan banyak puncak. Di Ceko juga ada industri Tatra, tapi bikin mobil. Jadi, ini pabrik Tatra yang mana? Tatra yang gunung, sudah saya jumpai di Jalan Gejayan, dekat Pasar Demangan, Yogyakarta. Itu nama penjahit, pemiliknya asal Wonosari. Mungkin dia mengidentifikasikan Gunung Kidul dengan Tatra. Sekarang pandangilah foto-foto sepia para opa dan eyang kakung yang tampak klimis. Boleh jadi mereka membabat kumis-jenggot-cambang dengan Tatra. Oh ya, nanti dalam sebuah pesta koktil, carilah dipomat Ceko dan Slovakia. Tanyailah apakah mereka pernah memakai silet Tatra. :) Hmm... silet, produk teknologi untuk membabat bulu yang tak diinginkan. Bank Dunia memasukkan Tatra sebagai indikator standar hidup rakyat Ghana dalam surveinya. Saya nggak tahu apakah Badan Pusat Statistik pernah memasukkan barang ginian dalam surveinya. Padahal harga barang remeh, bukan hanya silet, itu termasuk indikator biaya hidup lho. Maka tak mengherankan bila ada sebuah pemeringkatan biaya hidup kota-kota metropolitan dunia memasukkan harga MacD dan Coke [dan juga harga prangko untuk kirim kartu pos, selain ongkos taksi dari bandara ke pusat kota] untuk "indeks kemahalan".![]() |
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
|
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||