![]() |
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
![]() ![]() ![]() Saya bukan seorang kolektor maupun "kolekdol" [mengoleksi karya untuk dijual]. Saya hanya seorang pemulung, itu pun tak serius, bahkan hanya asal comot. ![]() Bagi saya, rasanya menyenangkan bisa memegang dan mengamati desain label dan kemasan yang kadang tak jelas siapa penciptanya itu. Mumpung kertas-kertas bergambar itu belum semakin tercecer, tercecer dan tercecer, sebagian saya selamatkan di sini saja. Salam gombal, kéré kêmplu ![]() Sajian utama blog ini adalah gambar. Adapun teks itu hanya bualan, omong kosong, semata agar gambar tak kesepian seolah tak berkawan. Meskipun begitu saya berterima kasih kepada para korban bualan yang mau buang waktu memberikan apresiasi khusus.
Nina Uletbulunaikdaun ![]() Reference: Blog ![]() "... it's a beautiful gallery..." Bermula dari sini... GOMBALKARTU: Mainan lain mulai Agustus 2005 ![]() ![]()
Jika Anda punya label dan kemasan yang menarik, boleh Anda kirimkan gambarnya ke saya, atau... hard copy-nya sekalian :) Jangan sungkan, saya memang pemulung. :D ![]() ![]()
Contact Me |
23.10.04 | 01:24
Mie telor rasa perang Dulu, seingat saya, ada mie telor [bukan "mi telur" -- perhatikan ejaan!] cap Kapal Terbang, bikinan Semarang. Desain atawa opmaak [busyet... holland spreken, jack!] ya seperti pada gambar ini. Lantas ada bikinan Sukoharjo dikasih tambahan tank. Atau, barangkali "mi tulen kapal terbang dan tank" ini nongol duluan, lantas yang menyusul adalah "mi telor kapal terbang tanpa tank"? Entahlah. Yang pasti saya masih heran, kenapa mi harus dihubungkan dengan peralatan perang [untuk kasus tank] dan pesawat angkut berbaling-baling sekelas Hercules. Apakah gambar pesawat itu dimaksudkan agar konsumen merasa terbang tinggi, lantaran mabuk kelezatan, soalnya waktu itu [tahun 70-an] naik pesawat masih merupakan kemewahan? Lantas apakah gambar tank itu diniatkan supaya penyantap merasa telah kembali membumi -- setelah terbang tinggi -- dengan kekuatan dan jelajah setangguh tank? Oh ya, soal ejaan "mie" dan "mi" ini, keduanya memang masih hidup dalam masyarakat. Lihat saja menu rumah makan, baik yang ditempel di dinding maupun dalam lembar kertas A4 terlaminasi plastik. "Mie", adalah pelatinan kata Cina [Hokkian?] yang merujuk kepada [seolah-olah] cara Belanda. Sedangkan "mi" adalah cara yang disodorkan oleh Pusat Bahasa. Bagi kita yang penting bukanlah ejaan, tapi manakah yang enak. Gitu, kan? 21.10.04 | 00:41
Raja Turki Korek api keluaran tahun 90-an ini memakai merek dari dunia lama: Radja Stamboel. Setahu saya, kata "stamboel" berasal dari kata Istanbul [Konstantinopel], Turki, yang pada masa Hindia Belanda dicomot untuk menamai jenis pertunjukan sandiwara musikal melayu yang mementaskan cerita menak dari Timur Tengah. Bahwa Turki tak sepenuhnya [atau bukan?] Timur Tengah, bahkan separuh Eropa[h], tentu lain perkara. Saya tak tahu, apakah penggunaan merek Radja Stamboel ini masih menghadirkan makna di benak konsumen masa kini. "Stamboelan", sebagai sebutan untuk gaya pentas stamboel, termasuk lagunya [kalau tak salah sejenis keroncong], pun sudah jarang dikenal. Tapi segagah dan seberwibawa apapun seorang Radja Stamboel, dia tetaplah raja semalam -- tepatnya raja sekian jam -- karena sebelum dan setamat pentas dia hanya aktor dari sebuah sandiwara keliling. Mungkin kita perlu bertanya kepada anggota rombongan Miss Tjijtjih [terakhir, setahu saya, markas mereka di Teluk Gong, Jakarta Utara, setelah tergusur dari Cempaka Putih, Jakarta Pusat], bukan Miss Cici. :D20.10.04 | 00:54
Lintingan kawung Bu Sri ![]() ![]() Bu Sri Rukmini yakin betul bahwa produknya bagus. Tapi karena dia memakai ilmu padi, maka dia tak mau bilang "terbaik". Cukup menyatakan produknya terseleksi, sehingga "putih sederhana", lagi lemas. Produk Bu Sri adalah lembar daun kawung, atau daun enau [Arenga pinnata], yang sudah dikeringkan, untuk menjadi pengganti kertas sigaret lintingan. Saya mendapatkan produk yang terkemas dalam kertas minyak -- seperti kertas sampul tambahan pada buku rapor saya waktu SD -- di Pasar Pondokgede, awal 1993. Si penjual mengira saya membelikannya untuk kakek saya. Saat itu penikmat rokok kawung sudah mulai langka. 18.10.04 | 20:25
Marku[w]at bin Perkasa Satu hal yang membuat saya terkesan oleh jamu kuat ini adalah keluguannya. Yang namanya kuat tak langsung dihubung-hubungkan dengan keperkasaan berlaki-bini seperti umumnya jamu. Juga tak ada janji visual bahwa orang akan menjadi Bima atau Herkules maupun binaragawan. Kuat ya kuat selayaknya orang desa yang sehat: sanggup memanggul beban berupa hasil bumi. Prianya memanggul dan menenteng beberapa butir kelapa dengan tersenyum. Tapi kenapa perempuannya tak tersenyum santai ketika menggendong bakul berisi bebotolan jamu? Di sinilah ngèlmu tafsir saya buntu. Ngèlmu yang sebetulnya gombal itu. Sempat terpikir sih, apakah mereka suami-istri? Bisa ya, bisa tidak. Apakah mereka sekadar berjalan beriringan di jalan desa? Anda sajalah yang menafsirkannya. |
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
|
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||