ke halaman blog induk

pemoeda djawa, sampai sekarang masih dibikin oleh niemeyer





Saya bukan seorang kolektor maupun "kolekdol" [mengoleksi karya untuk dijual]. Saya hanya seorang pemulung, itu pun tak serius, bahkan hanya asal comot.

pemoeda djawa

Bagi saya, rasanya menyenangkan bisa memegang dan mengamati desain label dan kemasan yang kadang tak jelas siapa penciptanya itu. Mumpung kertas-kertas bergambar itu belum semakin tercecer, tercecer dan tercecer, sebagian saya selamatkan di sini saja.

Salam gombal,
kéré kêmplu





Sajian utama blog ini adalah gambar. Adapun teks itu hanya bualan, omong kosong, semata agar gambar tak kesepian seolah tak berkawan.

Meskipun begitu saya berterima kasih kepada para korban bualan yang mau buang waktu memberikan apresiasi khusus.


Nina Uletbulunaikdaun


Reference: Blog


"... it's a beautiful gallery..."




Bermula dari sini...




GOMBALKARTU:
Mainan lain mulai Agustus 2005







 
 






Jika Anda punya label dan kemasan yang menarik, boleh Anda kirimkan gambarnya ke saya, atau... hard copy-nya sekalian :) Jangan sungkan, saya memang pemulung. :D

dengan segala hormat anda saya larang tersenyum apalagi ketawa saat menatap gambar ini

Apakah mereka meng-update blognya?

<< October 2004 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02
03 04 05 06 07 08 09
10 11 12 13 14 15 16
17 18 19 20 21 22 23
24 25 26 27 28 29 30
31


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:


Contact Me

rss feed


30.10.04 | 15:52
Campursari bernama Indonesia

visalisasi indonesia: seuah gado-gado meriahApa sih yang disebut Indonesia? Batik, wayang, tampang Melayu atau Jawa lama dalam bingkai kultur indis? Saya nggak tahu. Bahkan apa itu impian bernama Indonesia -- bukan apa yang diimpikan orang Indonesia, "an Indonesian dream" -- saya pun masih kabur. Yah, kabur, tapi saya jalani, saya hidup di dalamnya, bersamanya. Kemarin ketika orang katering selesai memberesi sajiannya serampung kantor saya berbuka puasa, saya menemukan stoples plastik berlabel M' Djojo. Sebuah label yang mewadahi beragam niat eklektis: pop art wajah bule 60-an, teks verbal yang mengaku "tempo doeloe", dan Indonesia [baca: Jakarta] hari ini yang begitu sibuknya sehingga mengenal pesan antar atau delivery order. Indonesia adalah apa yang hadir hari ini. Termasuk bangunan ajaib baru Da Vinci di Jalan Sudirman Jakarta, bertetangga dengan Wisma Dharmala berwajah tropis karya Paul Rudolph dan Anggana Danamon yang punya ruang publik tak berpagar. Itulah sebagian potret kita.

27.10.04 | 00:36
Gara-gara: Dihindari, Dinanti

jangan cari gara-gara, tapi kita tunggu goro-goroGara-gara [kalau dalam bahasa Jawa harap dibaca: "goro-goro"] bisa berarti masalah, sehingga harus dihindari. Bisa juga berarti selingan dalam pertunjukan wayang kulit, saat keluarnya para punakawan cengengesan pada tengah malam, sehingga dinantikan penonton untuk mengerem kantuk. Di situlah dalang bebas berimprovisasi. Mau sekadar ndagel, boleh. Mau menyisipkan pesan pribadi maupun titipan sponsor, silakan. Lantas kenapa kelembak [dari akar Rheum officianale?], bubuk kasar untuk dicampurkan dengan tembakau buat dilinting, ini memakai merek Gara-gara? Mungkin agar tercipta suasana gayeng, akrab, dan penuh cengengesan jlgwr, dalam diri para pengisap rokok kelembak. Tapi yah, bagi orang lain, bau asap sigaret kelembak yang berempah itu bisa bikin pening. Apalagi jika dicampur dengan [ke]menyan, wuahhh... aromanya bakal mempertemukan orang yang tak tahan dengan yang namanya gara-gara. Si pengisap mencari gara-gara, meski niatnya bersenang-senang, dan orang lain tinggal memetik hasilnya: pusing, mual. Itulah goro-goro. Jika kita tilik gambarnya, gojekan Petruk dan Gareng itu memang berbahaya, berbau kekerasan, karena melibatkan arit. Namanya juga [cari] gara-gara, supaya dapat goro-goro.


23.10.04 | 01:24
Mie telor rasa perang

makan mi melambung tinggi lalu kembali membumiDulu, seingat saya, ada mie telor [bukan "mi telur" -- perhatikan ejaan!] cap Kapal Terbang, bikinan Semarang. Desain atawa opmaak [busyet... holland spreken, jack!] ya seperti pada gambar ini. Lantas ada bikinan Sukoharjo dikasih tambahan tank. Atau, barangkali "mi tulen kapal terbang dan tank" ini nongol duluan, lantas yang menyusul adalah "mi telor kapal terbang tanpa tank"? Entahlah. Yang pasti saya masih heran, kenapa mi harus dihubungkan dengan peralatan perang [untuk kasus tank] dan pesawat angkut berbaling-baling sekelas Hercules. Apakah gambar pesawat itu dimaksudkan agar konsumen merasa terbang tinggi, lantaran mabuk kelezatan, soalnya waktu itu [tahun 70-an] naik pesawat masih merupakan kemewahan? Lantas apakah gambar tank itu diniatkan supaya penyantap merasa telah kembali membumi -- setelah terbang tinggi -- dengan kekuatan dan jelajah setangguh tank?

Oh ya, soal ejaan "mie" dan "mi" ini, keduanya memang masih hidup dalam masyarakat. Lihat saja menu rumah makan, baik yang ditempel di dinding maupun dalam lembar kertas A4 terlaminasi plastik. "Mie", adalah pelatinan kata Cina [Hokkian?] yang merujuk kepada [seolah-olah] cara Belanda. Sedangkan "mi" adalah cara yang disodorkan oleh Pusat Bahasa. Bagi kita yang penting bukanlah ejaan, tapi manakah yang enak. Gitu, kan?

21.10.04 | 00:41
Raja Turki

raja berwibawa tanpa angkara, meski sering ke ankaraKorek api keluaran  tahun 90-an ini memakai merek dari dunia lama: Radja Stamboel. Setahu saya, kata "stamboel" berasal dari kata Istanbul [Konstantinopel], Turki,  yang pada masa Hindia Belanda dicomot untuk menamai jenis pertunjukan sandiwara musikal melayu yang mementaskan cerita menak dari Timur Tengah. Bahwa Turki tak sepenuhnya [atau bukan?] Timur Tengah, bahkan separuh Eropa[h], tentu lain perkara. Saya tak tahu, apakah penggunaan merek Radja Stamboel ini masih menghadirkan makna di benak konsumen masa kini. "Stamboelan", sebagai sebutan untuk gaya pentas stamboel, termasuk lagunya [kalau tak salah sejenis keroncong], pun sudah jarang dikenal. Tapi segagah dan seberwibawa apapun seorang Radja Stamboel, dia tetaplah raja semalam -- tepatnya raja sekian jam -- karena sebelum dan setamat pentas dia hanya aktor dari sebuah sandiwara keliling. Mungkin kita perlu bertanya kepada anggota rombongan Miss Tjijtjih [terakhir, setahu saya, markas mereka di Teluk Gong, Jakarta Utara, setelah tergusur dari Cempaka Putih, Jakarta Pusat], bukan Miss Cici. :D

     Next Page
   


© Hak cipta gambar ada pada masing-masing pemilik, pemuatan di sini tanpa meminta izin, semata karena apresiasi terhadap karya dan keinginan untuk menyebarluaskannya . Maaf dan terima kasih untuk pemilik hak atas karya.

Terima kasih untuk semua orang yang telah menyumbangkan label dan untuk semua pihak yang telah mengabarkan keberadaan blog ini.

Desain oleh Masé, 18 Juli 2005

 

Blogdrive