<?xml version="1.0" encoding="ISO-8859-1" ?>
<rss version="0.91">
  <channel>
    <title>labelGombal</title>
    <link>http://gombalabel.blogdrive.com/</link>
    <description>gombaLabel | bualan seorang pemulung</description>
    <lastBuildDate>Tue, 01 Aug 2006 22:30:09 PDT</lastBuildDate>
    <generator>http://www.blogdrive.com</generator>
    <copyright>Copyright 2006.</copyright>
    <category>Arts</category>
    <category>Writing</category>
    <category>Art</category>
    <item>
      <title>Pindah warung</title>
      <link>http://gombalabel.blogdrive.com/archive/75.html</link>
      <pubDate>Tue, 01 Aug 2006 15:28:35 GMT</pubDate>
      <description>Mulai ini hari gambar dan cerita hijrah ke warung sebelah. Kwalitet tetap sama. Tepatnya: sama gombalnya. Terima kasih. Semoga makin kuciwa.
 
</description>
    </item>
    <item>
      <title>Akhirnya jadi...</title>
      <link>http://gombalabel.blogdrive.com/archive/74.html</link>
      <pubDate>Thu, 20 Oct 2005 20:32:24 GMT</pubDate>
      <description>Sidodadi. Ini istilah Jawa yang sering dipakai untuk menamai usaha dagang. Bahkan pasar pun ada yang bernama Sidodadi. Artinya ya sebangsa &quot;akhirnya jadi&quot;, &quot;akhirnya terlaksana&quot;, &quot;akhirnya terwujud&quot;.
Untuk toko di Bandung ini, jelaslah maksudnya: akhirnya gandum dan tepung lainnya bisa menjadi roti dan &quot;kuweh&quot;. Lihatlah, rak kacanya penuh berisi dagangan kan? Roti tawar yang dinampankan pun cukup besar ukurannya.


Bungkus plastik ini saya dapatkan dari Boit, atas jasa baik Ragilmungil [teng yu, Ci!]. Hanya bungkus, tanpa isi. Tak apa, itu sudah membahagiakan saya. Kebahagian itu semakin... (more)</description>
      <comments>http://gombalabel.blogdrive.com/comments?id=74</comments>
    </item>
    <item>
      <title>Kue tanpa rasa delima</title>
      <link>http://gombalabel.blogdrive.com/archive/73.html</link>
      <pubDate>Thu, 13 Oct 2005 18:28:46 GMT</pubDate>
      <description>



Ini bikinan Malang, Jawa Timur. Namanya kue koya. Rasanya manis. Berserbuk. Berbahan antara lain kacang hijau. Saya tak tahu sejak kapan ada. Ada yang bilang tahun 60-an sudah ada. Orang Malang mungkin bisa bercerita.


Yang khas dari koya adalah cara mengemasnya. Kue pipih bundar ini ditumpuk lima kemudian dibalut dengan kertas roti. Keunikan lain: dari kemasan sudah terasa aroma oriental, maksud saya Cina; sungguh bukti keragaman Indonesia. Warna merah, buah delima sebagai merek, nama perusahaan, dan tulisan Tau Sa Ko [saya tak tahu artinya; ada yang bisa membantu?]. Sebuah kecinaan... (more)</description>
      <comments>http://gombalabel.blogdrive.com/comments?id=73</comments>
    </item>
    <item>
      <title>Lumpia Nona</title>
      <link>http://gombalabel.blogdrive.com/archive/72.html</link>
      <pubDate>Mon, 26 Sep 2005 17:51:13 GMT</pubDate>
      <description>
Lunpia atau lumpia? Sama saja. Maksudnya spring roll. Kita menyerapnya dari bahasa Cina [Hokkian?], dan kaum peranakan di Semarang masih setia dengan &quot;lunpia&quot;. Kalau ingin lebih jelas bertanyalah kepada Remy Sylado, sang munsyi itu.


Semarang tak sendirian. Malang juga punya lumpia. Jakarta juga &amp;mdash; tapi bumbunya beda. Lumpia semarang [dengan &quot;s&quot; kecil, seperti &quot;y&quot; kecil dalam &quot;gudeg yogya&quot;], terutama yang isi ayam, memang sedap. Dengan lalap daun bawang pedas, wuahhhh. Basah-mentah maupun [apalagi] goreng kering panas, sungguh lezat jadi teman menyeruput teh melati.


Manakah lumpia... (more)</description>
      <comments>http://gombalabel.blogdrive.com/comments?id=72</comments>
    </item>
    <item>
      <title>Pesona istana</title>
      <link>http://gombalabel.blogdrive.com/archive/71.html</link>
      <pubDate>Mon, 19 Sep 2005 06:32:17 GMT</pubDate>
      <description>
Pamor keraton belum pudar. Terbukti, keraton tak hanya bertahan di pentas kethoprak, tetapi juga rokok [bikinan orang dalam] dan yang terbaru: minuman instan. Dikemas modern, dalam aluminium foil, memakai bar code pula [ini simbol perdagangan masa kini], Keraton Sari Jahe yang mengenal kedaluwarsa ini bisa dijadikan minuman panas maupun dingin. Menurut pembuatnya, cocok pula untuk wedang ronde, susu, kopi, bahkan... santan!


Keraton Jahe ini dari vorstenlanden [Yogya-Sala]? Bukan. Bikinan wong Jawa Wetan, tepatnya Pandan Landung, Malang.


Dengan tambahan ginseng dan gula, sensasi apa... (more)</description>
      <comments>http://gombalabel.blogdrive.com/comments?id=71</comments>
    </item>
    <item>
      <title>Djenang Soempah Pemoeda</title>
      <link>http://gombalabel.blogdrive.com/archive/70.html</link>
      <pubDate>Thu, 15 Sep 2005 18:50:32 GMT</pubDate>
      <description>Ayu. Cantik. Tak hanya berlaku untuk wajah, tapi juga barang. Di pasar-pasar Jawa Tengah, sudah biasa jika mbok-mbok penjual menawarkan dagangannya penuh rayuan, &quot;Ini lho den, ayu-ayu...&quot;. Yang ayu itu bisa buah, penganan sampai ikan. Teman saya, namanya Eko Waryono, seorang pecinta motor kuno, memberi jempol untuk sebuah kedai hidangan laut [seafood, gitu] entah di mana, &quot;Bos, di sono tuh kepitingnya cakep-cakep, udangnya juga, padahal kagak pake gincu.&quot; Eko bukan pencumbu ikan, secakep apapun ikan itu. Dia penyantap ikan dan hasil laut lainnya. Meski setiap orang dia panggil &quot;bos&quot;, ikan... (more)</description>
      <comments>http://gombalabel.blogdrive.com/comments?id=70</comments>
    </item>
    <item>
      <title>Thumb up! [Kriuk! Crisss!]</title>
      <link>http://gombalabel.blogdrive.com/archive/69.html</link>
      <pubDate>Tue, 13 Sep 2005 04:41:30 GMT</pubDate>
      <description>Kalau krisis energi kian parah, kita akan kembali berurusan dengan semprong. Itu lho, tabung kaca tipis, hasil kerajinan, yang dipakai untuk melindungi api sumbu teplok dari terpaan angin. Si semprong pula yang menjadi sekat agar gambar artis cewek pada bidang cantelan teplok tak hangus. Kalau krisis energinya sudah amat menyedihkan, sehingga listrik menjadi amat sangat mahal, makin banyak saja kartu nama teman yang berganti kantor: &quot;Titi Pelitahati, marketing manager, CV Semprong Kinclong Jaya&quot;.


Semprong mudah pecah, karena kualitasnya memang kelas rakyat. Tapi tenanglah, ada warung yang... (more)</description>
      <comments>http://gombalabel.blogdrive.com/comments?id=69</comments>
    </item>
    <item>
      <title>Tomi si Topi Miring</title>
      <link>http://gombalabel.blogdrive.com/archive/68.html</link>
      <pubDate>Mon, 05 Sep 2005 08:48:30 GMT</pubDate>
      <description>
Boleh jadi mata saya tidak beres. Saya lihat, topi lelaki yang malas mencukur kumis-jenggot-cambang ini tidak terpasang miring. Sedikit bergelombang lekuk, memang iya. Tapi si empunya merek menyebutnya Topi Miring. Konsumen menyingkatnya &quot;Tomi&quot;. Ah ya, mungkin topinya miring ke depan, atau ke belakang, pokoknya bukan menyamping. Saya tak tahu kenapa dinamai Topi Miring. Dulu, waktu awal mendengar, saya pikir itu sebutan lokal, gaya kampung, untuk Johnnie Walker. Bertahun kemudian, belum ada setahun, saya baru ngeh, memang ada merek Topi Miring. Merek yang nyeleneh, dan nyatanya menancapkan... (more)</description>
      <comments>http://gombalabel.blogdrive.com/comments?id=68</comments>
    </item>
    <item>
      <title>Wangi mulus tapi bak kesemek</title>
      <link>http://gombalabel.blogdrive.com/archive/67.html</link>
      <pubDate>Fri, 26 Aug 2005 16:37:27 GMT</pubDate>
      <description> 



Anda tahu buah kesemek [Diospyros kaki]? Itu sebuatan saya waktu kecil untuk bocah, balita, laki maupun perempuan, yang sehabis mandi tampak bersih, mulus, tapi pupurannya kelewat tebal, sehingga seperti kesemek.  Kalau lebih tebal, dan merata, itu namanya riasan ala kabuki, ketopraknya Jepun. 



Bingung membayangkan? Kesemek adalah buah yang kulitnya berwarna kuning tua atau jingga, dan entah kenapa di tangan penjual buah di pasar kulitnya selalu terlaburi serbuk putih yang tak merata. Seingat saya rasa daging buahnya tak terlalu manis, tapi asam pun tidak. Cenderung anyep, kata... (more)</description>
      <comments>http://gombalabel.blogdrive.com/comments?id=67</comments>
    </item>
    <item>
      <title>5 Pasal Keluarga Khong Guan</title>
      <link>http://gombalabel.blogdrive.com/archive/66.html</link>
      <pubDate>Fri, 12 Aug 2005 19:40:43 GMT</pubDate>
      <description>
TENTANG &quot;roti kaleng cap Khong Guan&quot; [orang Jawa menyebut biskuit sebagai roti] versi orisinal, yaitu assorted biscuits yang diakrabi para keluarga di Indonesia, ada lima pasal. 


1 | Saya dulu waktu kecil sangat terkesan oleh ilustrasi dalam kaleng, yang sampai hari ini tak diganti. Keluarga yang hangat sedang bersantai di meja makan bertaplak linen dengan bekas lipatan yang kentara. Tapi saya membatin, di manakah bapaknya? Ah, anggap saja dialah yang memotret keluarganya. Dia tak tahu cara menggunakan self timer. Lho, ini kan lukisan? Hmmm anggap saja hasil salinan dari foto.


2 |... (more)</description>
      <comments>http://gombalabel.blogdrive.com/comments?id=66</comments>
    </item>
  </channel>
</rss>
